Penutupan Perdagangan Kamis, Rupiah Makin Loyo ke Rp17.966 per Dolar AS

  • 01 Okt 2026 22:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,40 persen atau 72 poin menjadi Rp17.966 per dolar AS
  • Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian prospek pembicaraan atara AS-Iran.
  • AS berencana menerapkan larangan ekspor solar

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan rupiah berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,40 persen atau 72 poin menjadi Rp17.966 per dolar AS.

Dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian prospek pembicaraan atara AS-Iran. Presiden Trump membantah bahwa dirinya akan memberi keringanan sanksi terhadap Iran dan mencairkan dana milik Iran yang dibekukan AS.

"Di sisi lain, Trump juga mengatakan masih membahas kemungkinan pelarang ekspor solar AS. Sebelumnya Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor solar selama 90 hari," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 1 Oktober 2026

Rencana larangan ekspor solar menjadi penting bagi AS yang sudah terdesak oleh harga solar di AS yang tinggi. Harga bahan bakar itu sudah mencapai USD6,53 per galon, sementara cadangan solar AS berada pada tingkat terendah dalam sejarah.

Sementara itu, inflasi berupa Indeks Harga Pengeluaran untuk Konsumsi Pribadi naik 0,2 persen pada bulan Agustus. Angkanya berada di bawah perkiraan, sehingga memberikan sedikit kelegaan pada prospek inflasi.

"Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan Oktober. Probabilitasnya turun menjadi sekitar 34 persen dari sebelumnya hampir 70 persen awal pekan kemarin.

Pasar selanjutnya akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat. Laporan tenang kerja ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Sementara itu dari dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026. Sebelumnya, indeks manufaktur Indonesia mengalami kontraksi di bulan Agustus.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 . Angkanya sudah di atas 50 yang artinya sedang mengalami ekspansi.

"Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD26,61 miliar," ujar Ibrahim.

"Jumlah itu melampaui nilai impor USD23,06 miliar per Agustus 2026," ucap Ibrahim. BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai USD26,61 miliar atau naik 6,72 persen secara tahunan pada Agustus 2026.

Sementara itu, impor Indonesia tercatat sebesar USD23,06 miliar. Kinerja impor naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....