Rupiah Dibuka Melemah Lagi, Analis: Rawan Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
- 01 Okt 2026 09:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.919 per dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini
- Rupiah masih rentan kembali menembus Rp18.000 per dolar AS
- Dinamika global, tambahnya, masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.919 per dolar AS.
Padahal pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, rupiah ditutup naik cukup signifikan sebesar 0,48 persen atau 87 poin. Sehingga nilai tukar rupiah menguat menjadi Rp 17.894 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diprakirakan akan bergerak fluktuatif, cenderung melemah. Karenanya rupiah masih rentan kembali menembus Rp18.000 per dolar AS.
"Kami mencermati dari sisi teknikal, pergerakan Rupiah nampaknya rawan terdepresiasi terhadap dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, Kamis, 1 Oktober 2026. Menurutnya, yang harus diperhatikan dari pergerakan rupiah adalah area Rp17.954
Apabila rupiah menembus area tersebut, maka rupiah akan bergerak menguji kisaran Rp17.987-Rp18.062 per dolar AS. "Best case nya, rupiah menguat ke rentang Rp17.836-Rp17.880 per dolar AS," ujar Herditya.
Dinamika global, tambahnya, masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Dinamika yang menyebabkan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi masih cenderung kuat.
Kedua faktor tersebut, kata Herditya, berpengaruh negatif ke emerging market, termasuk Indonesia. Tingginya indeks dolar dan imbal hasil tersebut dapat memicu aliran keluar modal asing, yang menekan nilai tukar.
Indeks dolar AS hari ini bergerak di kisaran 101,45-101,48, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level 5,29 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....