Rupiah Masih Tertekan, Semakin Dekat ke Level Rp18.000 per Dolar AS
- 28 Sep 2026 21:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,42 persen atau 75 poin ke posisi Rp17.978 per dolar AS
- Tekanan terhadap rupiah masih didominasi oleh faktor eskternal. Tarik ulur negosiasi antara AS-Iran, serangan kelompok Houthi Yaman ke Arab Saudi, dan ketegangan di Selat Hormuz
- Pekan ini akan dipadati oleh rilis data ekonomi AS, mulai dari data inflasi berupa indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) hingga data Purchasing Managers’ Index (PMI) ISM
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah makin tertekan dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,42 persen atau 75 poin ke posisi Rp17.978 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah masih didominasi oleh faktor eskternal. Tarik ulur negosiasi antara AS-Iran, serangan kelompok Houthi Yaman ke Arab Saudi, dan ketegangan di Selat Hormuz.
“Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sementara Presiden Trump mengatakan akan ada negosiasi di minggu ini dengan mediasi Qatar,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 28 September 2026.
Di Selat Hormuz, rudah jelajah Iran menghantam kapal AS yang menyebabkan delapan korps mariner AS terluka. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman, meningkatkan serangannya ke Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah.
Perkembangan tersebut memicu kembali kekhawatiran akan pasokan energi. Sehingga harga minyak mentah masih tinggi di atas USD90 per barel.
Dari sisi ekonomi, Ibrahim mengatakan, pekan ini akan dipadati oleh rilis data ekonomi AS. Di antaranya data inflasi berupa indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) hingga data Purchasing Managers’ Index (PMI) versi Institute of Supply Management (ISM).
Selain itu juga akan dirilis data penggajian pekerja non-pertanian (NFP). “Rilis data-data tersebut memainkan peranan penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan the Fed bulan depan,” ucap Ibrahim.
Di dalam negeri, pasar mencermati risiko harga minyak mentah yang masih tinggi terhadap perekonomian Indonesia. Naiknya harga minyak akan berdampak pada inflasi, fiskal dan keseimbangan eksternal.
Harga minyak saat ini, jauh dari asumsi APBN tahun 2026 sebesar USD70 per barel. Jika kondisi harga minyak dunia yang lebih tinggi berlangsung lama, pemerintah harus memilih satu dari sejumlah opsi.
Pilihannya adalah menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik. Langkah pelonggaran moneter dalam waktu dekat diproyeksikan makin terbatas, ditambah risiko inflasi dan ketersediaan pangan akibat fenomena alam El Nino.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....