IHSG Terkoreksi 0,88 Persen ke Level 6.384,72 pada Penutupan Perdagangan
- 21 Sep 2026 16:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG anjlok 56,72 poin atau 0,88 persen ke level 6.384,72 pada penutupan perdagangan Senin 21 September 2026.
- Investor menunggu keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika kebijakan moneter global.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan perdagangan Selasa, 21 September 2026. Pada akhir sesi II, IHSG berada pada level 6.384,72 atau turun 56,72 poin (0,88 persen).
Pada awal perdagangan, IHSG sempat melesat ke level 6.446,89. Namun, indeks berbalik anjlok dan sempat menyentuh posisi terendah di level 6.388,24.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dan cenderung berada di area negatif. Sebanyak 354 saham turun, 280 saham naik, dan 156 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai lebih dari Rp11,8 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 26,9 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 1,8 juta kali transaksi.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mencermati penguatan bursa regional Asia yang dipengaruhi perkembangan diplomatik Timur Tengah. Pelaku pasar juga memperhatikan sikap negara-negara Teluk dalam menjaga stabilitas kawasan.
| Baca juga: IHSG Dibuka Menguat Tipis ke Level 6.446 |
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, mendesak negara-negara Teluk untuk bekerja sama dalam memulihkan stabilitas di seluruh kawasan. “Presiden AS, Donald Trump, mungkin juga akan bertemu dengan para pemimpin Teluk Persia lainnya,” kata Tim Pilarmas.
Pasar Asia juga mencermati keputusan bank sentral Tiongkok, PBOC, mempertahankan suku bunga acuan pinjaman. Suku bunga pinjaman utama satu tahun tetap 3,0 persen dan tenor lima tahun berada pada 3,5 persen.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada pertemuan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Keputusan tersebut menjadi salah satu sentimen domestik yang diperhatikan investor.
Tim Pilarmas juga menyoroti kondisi kebijakan moneter global di tengah tekanan inflasi akibat krisis energi. Sejumlah bank sentral utama turut menjadi perhatian pasar dalam mencermati arah kebijakan ekonomi global.
BOJ (Jepang), The Fed (AS), dan ECB (Eropa) kompak menaikkan suku bunga untuk meredam lonjakan inflasi akibat krisis energi. “Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar di tengah dinamika kebijakan moneter global,” kata Tim Pilarmas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....