OJK Ungkap Penyebab Masih Rendahnya Realisasi IPO Tahun Ini
- 17 Sep 2026 17:49 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- OJK menilai dinamika pasar global dan ketidakpastian geopolitik memengaruhi waktu pelaksanaan IPO perusahaan.
- Tujuh perusahaan berada dalam antrean IPO per 6 September 2026 dengan target dana maksimal Rp4,02 triliun.
RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan faktor-faktor penyebab turunnya realisasi penawaran saham perdana (IPO) sepanjang 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut dinamika global sebagai salah satunya.
Menurut dia, meningkatnya ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi waktu perusahaan dalam melaksanakan penawaran umum. “Kondisi tersebut memengaruhi timing perusahaan untuk IPO,” ujarnya di Jakarta, Rabu 16 September 2026.
Hasan mengatakan sejumlah perusahaan masih menunda pelaksanaan IPO karena kondisi pasar global yang belum sepenuhnya mendukung. Selain itu, beberapa rencana IPO juga belum mendapatkan persetujuan dari OJK.
Menurut dia, perusahaan-perusahaan tersebut masih perlu meningkatkan kualitas keterbukaan informasi sebelum memperoleh persetujuan pelaksanaan IPO. OJK menilai kesiapan calon emiten menjadi salah satu aspek penting dalam proses penawaran saham perdana.
Hasan menambahkan fokus OJK tidak hanya pada jumlah perusahaan yang melakukan IPO. Namun, lanjut dia, keseluruhan nilai penghimpunan dana melalui pasar modal juga menjadi perhatian.
“OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan sosialisasi kepada calon emiten,” ujarnya. Termasuk salah satunya dengan melakukan coaching clinic di beberapa daerah di Indonesia.
Hingga awal September 2026, terdapat tujuh perusahaan dalam antrean proses pendaftaran IPO. Perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan memiliki target penghimpunan dana maksimal mencapai Rp4,02 triliun.
Di sisi lain, nilai penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp148,3 triliun hingga 6 September 2026. OJK menargetkan total penghimpunan dana pasar modal sepanjang 2026 dapat mencapai Rp250 triliun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....