OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di tengah Risiko Global

  • 07 Sep 2026 21:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,29 persen, tetapi inflasi dan aktivitas manufaktur masih menjadi perhatian.
  • OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga meski risiko global meningkat.
  • Perlambatan ekonomi global dipengaruhi tekanan geopolitik, inflasi, serta kenaikan imbal hasil obligasi negara maju.

RRI.CO.ID, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga. Kondisi tersebut berlangsung di tengah kuatnya pertumbuhan intermediasi dan meningkatnya berbagai risiko global.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan risiko geopolitik di Timur Tengah masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut dipengaruhi konflik di Iran yang masih berlangsung serta belum dibukanya kembali Selat Hormuz.

“Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas. Sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi,” kata Friderica dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Senin, 7 September 2026.

Menurut Friderica, tekanan inflasi global juga dipengaruhi fenomena El Nino yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut berdampak terhadap kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, pertumbuhan ekonomi global menunjukkan kecenderungan melambat. Perlambatan tercermin dari mayoritas negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi lebih rendah pada triwulan II 2026.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi tercatat berada di bawah ekspektasi. Kondisi tersebut diikuti moderasi pasar tenaga kerja serta inflasi yang masih tinggi meski menunjukkan tren penurunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan. Pelemahan tersebut terlihat pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

“Dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut. Baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik,” katanya.

Tekanan juga terlihat pada pasar keuangan global melalui kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara maju. Kenaikan tersebut dipengaruhi kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.

Meski perekonomian global melambat, Friderica menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan.

“Didukung investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan,” ujarnya.

Namun demikian, tekanan masih terlihat dari perkembangan inflasi dan aktivitas sektor manufaktur Indonesia. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur nasional masih berada di zona kontraksi. Kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index atau PMI yang berada pada level 49,8.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....