Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Konflik AS-Iran yang Kembali Memanas

  • 01 Sep 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS
  • Pelemahan nilai tukar rupiah lebih disebabkan faktor eksternal. Pasar merespon negatif ancaman baru Presiden Trump terhadap Iran
  • Pernyataan Ketua the Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole membuat dolar AS menguat tajam

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang diprediksi berpeluang menguat, ternyata melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah lebih disebabkan faktor eksternal. Pasar merespon negatif ancaman baru Presiden Trump terhadap Iran.

“AS dan Iran kembali saling serang untuk pertama kalinya, setelah sebulan ketegangan mereda. Hal tersebut membuat situasi di Timur Tengah kembali memanas,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 1 September 2026.

Sementara itu, upaya mediasi Qatar dan Oman untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz belum membuahkan hasil. Iran masih memegang kendali jalur perdagangan strategis itu.

Di luar kondisi geopolitik, pelaku pasar mencermati pidato Ketua the Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole. Pidato Warsh dinilai hawkish (ketat) sehingga mendorong kembali ekspetasi kenaikan suku bunga di bulan September.

“Pernyataan Warsh membuat dolar AS menguat tajam dan imbal hasil obligasi AS tebor pendek ikut naik. Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September,” ujar Ibrahim.

Peluang tersebut naik tajam dibandingkan sebelum Warsh berpidato, yang hanya 38 persen. Selanjutnya, pasar akan melihat rilisi perkembangan PMI manufaktur dan lowongan pekerjaan dari hasil survei Job openings and Labor turnover survey (JOLTS).

Fokusnya, tambah Ibrahim, data tenaga kerja non-pertanian (No-Farm Payrolls yang akan dirilis Jumat mendatang. Sementara itu, di dalam negeri, rilis data ekonomi belum mampu mendongkrak penguatan rupiah.

Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali tertekan ke zona kontraksi karena angkanya 49,8 atau di bawah 50. Pada bulan Juli, PMI manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi di level 50,2.

“S&P mencatan pelemahan PMI manufaktur Indonesia di bulan Agustus terutama dipengaruhi oleh output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi bulan Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulan. Sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 3,19 persen.

Pada bulan sebelumnya, di bulan Juli, perekonomian Indonesia tercatat deflasi 0,14 persen. BPS juga merilis data perkembangan perdagangan luar negeri Indonesia yang kembali membukukan surplus USD120 juta pada Juli 2026.

Pada Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD450 juta. Secara kumulatif, dari Januari-Juli 2026, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar 3,7 miliar dolar AS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....