IHSG Ditutup Melemah 0,64 Persen ke Level 6.091, Mayoritas Saham Berada di Zona Merah

  • 29 Jul 2026 17:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG menutup perdagangan pada Rabu, 29 Juli 2026, di zona merah dengan penurunan 39,20 poin atau 0,64 persen ke level 6.091,39.
  • Indeks Harga Saham Gabungan sempat dibuka menguat di level 6.141,16 namun momentum positif tidak bertahan hingga akhir perdagangan.
  • Pergerakan melemah IHSG sepanjang sesi perdagangan menunjukkan tekanan selling dominan di pasar saham Indonesia pada hari tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada Rabu, 29 Juli 2026, di zona merah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG turun 39,20 poin atau 0,64 persen ke level 6.091,39.

IHSG sempat dibuka menguat di level 6.141,16. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama hingga akhirnya indeks bergerak melemah sepanjang perdagangan.

Sepanjang hari, IHSG bergerak di kisaran 6.029,32 hingga 6.174,41. Volume transaksi mencapai 39,368 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp22,622 triliun.

Sebanyak 177 saham menguat, 468 saham melemah, dan 148 saham ditutup tidak berubah. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.698,856 triliun.

Sebelumnya, IHSG sempat menguat pada pembukaan perdagangan dan diperkirakan mengalami technical rebound jangka pendek. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan ruang penguatan indeks masih terbuka secara teknikal.

"IHSG berpeluang untuk short-term technical rebound hari ini," ujar Fanny dalam risetnya, Rabu, 29 Juli 2026. Ia memproyeksikan level support IHSG berada pada kisaran 6.050-6.100, sedangkan resistance berada di rentang 6.170-6.230.

Sementara itu Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan beberapa saham mencatatkan kenaikan besar pada perdagangan hari ini. Saham-saham tersebut antara lain MGNA, DWGL, ECII, MTWI, dan KOPI.

Pilarmas juga merekomendasikan saham ULTJ dengan rekomendasi beli pada kisaran support dan resistance 1.350-1.450. Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan ekonomi global, terutama menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Selain itu, kenaikan harga energi saat ini dinilai lebih dipengaruhi gangguan pasokan jangka pendek dibandingkan tekanan inflasi yang bersifat struktural. Fokus investor global kini tertuju pada konferensi pers dan arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.

Pasar mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sempat mendekati 40 persen, sehingga setiap sinyal dari bank sentral Amerika Serikat diperkirakan akan memengaruhi arus modal asing. Begitu juga sentimen di pasar keuangan global, termasuk bursa saham Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....