IHSG Berisiko Melemah Kembali akibat Anjloknya Nilai Tukar Rupiah
- 29 Jul 2026 07:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Secara teknikal IHSG masih akan melemah dengan menguji level 6.050-6.100 salah satunya akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan melemah pada pembukaan perdagangan Rabu 29 Juli 2026. Sehari sebelumnya, IHSG turun 0,89 persen ke level 6.130,59 saat penutupan perdagangan.
“Secara teknikal IHSG masih akan melemah, menguji level 6.050-6.100," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Menurut tim, bursa saham masih bergerak di zona negatif salah satunya karena dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Pada Selasa 28 Juli 2026, rupiah ditutup melemah 0.41 persen ke posisi Rp18.083 per dolar Amerika Serikat (AS). Tim Phintraco menyebutkan posisi tersebut mendekati level terendah sepanjang masa yaitu Rp18.190 per dolar AS.
Berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Faktor luar adalah berlanjutnya penguatan indeks dolar AS menjelang pertemuan The Fed pekan ini.
“The Fed kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5 persen hingga 3,75 persen,” kata Tim Phintraco. Sementara rupiah yang makin melemah akan menimbulkan tekanan di pasar saham.
Dari sisi domestik, investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian. Terutama terkait penunjukkan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif yang dinilai dapat berpengaruh pada kebijakan bank sentral ke depannya.
Pelaku pasar juga mencermati Perwakilan Perdagangan AS (USTR) yang mengisyaratkan potensi pengenaan tarif impor tambahan. Sejumlah negara di Asia menjadi target kebijakan tersebut seperti Tiongkok, Vietnam dan Korea Selatan.
“Pengenaan tarif ini berdasarkan penyelidikan USTR terhadap dugaan kelebihan kapasitas produksi dan praktik dumping manufaktur negara-negara tersebut,” katanya. Menurut tim, Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai hal tersebut karena AS sebelumnya sudah mengenakan tarif tambahan 10 persen.
Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia mengungkapkan bursa efek Indonesia mengalami net sell pada Selasa 28 Juli 2026. Aksi jual saham oleh investor asing membukukan jual bersih senilai Rp788,57 miliar.
Lima saham yang paling banyak dijual adalah BMRI, BBRI, TPIA, ANTM dan BUMI. “Secara kumulatif pasar saham Indonesia masih mengalami aliran modal keluar sebesar Rp94,87 triliun,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....