IHSG Melemah ke Level 6.130, Investor Cermati Transisi Bank Indonesia

  • 28 Jul 2026 16:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG menutup perdagangan hari Selasa, 28 Juli 2026 dengan penurunan 55,195 poin atau 0,89 persen ke level 6.130,58.
  • Indeks dibuka di level 6.175,198 dan sempat mencapai level tertinggi 6.199,44 sebelum mengalami koreksi di akhir sesi.
  • Penurunan IHSG mencerminkan sentiment negatif pasar modal Indonesia pada hari perdagangan tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. IHSG berakhir di level 6.130,58, turun 55,195 poin atau 0,89 persen.

Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka di level 6.175,198. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.199,44 sebelum turun hingga level terendah 6.130,58 saat penutupan.

Sebanyak 265 saham menguat, 360 saham melemah, dan 172 saham lainnya ditutup stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp10,859 triliun dengan volume perdagangan 25,418 miliar saham.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sejumlah sentimen domestik dan global. Salah satu perhatian pasar adalah kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Direktur Reliance Sekuritas Tbk Reza Priyambada mengatakan kabar tersebut memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar. Menurutnya, keputusan yang berlangsung secara mendadak membuat investor mempertanyakan arah kebijakan ke depan.

"Pengunduran diri ini dilakukan tiba-tiba sehingga menimbulkan pertanyaan dan spekulasi di pasar. Kalau market sudah dicampuri urusan politik, itu yang agak repot," ujar Reza kepada Pro3 RRI, Selasa, 28 Juli 2026.

Meski demikian, Reza menilai pelemahan IHSG maupun nilai tukar rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh pengunduran diri Perry. Menurutnya, pasar juga masih dibayangi sentimen global, terutama ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Ia mengatakan sektor perbankan menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perkembangan tersebut. Selain itu, emiten di sektor infrastruktur dan konsumsi juga berpotensi terkena dampak akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

"Pergantian pejabat sebenarnya tidak masalah. Yang menjadi persoalan ketika dilakukan tiba-tiba sehingga memunculkan berbagai spekulasi," katanya.

Reza menilai pemerintah bersama Bank Indonesia perlu memastikan proses transisi kepemimpinan berjalan normal. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan.

Ia juga menyarankan Bank Indonesia memperkuat komunikasi kebijakan kepada publik. Menurutnya, kejelasan arah kepemimpinan baru serta langkah menjaga stabilitas rupiah akan membantu meredam kekhawatiran pelaku pasar.

"Pastikan pergantian ini merupakan proses yang biasa dan jangan menimbulkan spekulasi. BI juga perlu segera merumuskan langkah menjaga stabilitas rupiah," ucap Reza.

Menurutnya, kepastian mengenai arah kebijakan bank sentral akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor. Dengan komunikasi yang konsisten, pasar diharapkan dapat kembali bergerak lebih stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....