Rupiah Dibuka Anjlok ke Level Rp18.111 per dolar AS

  • 28 Jul 2026 10:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Data Bloomberg menunjukkan, rupiah dibuka turun 0,57 persen atau 102 poin ke posisi Rp18.111 per dolar AS
  • Pelemahan disebabkan sentimen negatif investor merespon pengunduran diri gubernur BI kemarin
  • Rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan,

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah makin merosot terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah dibuka turun 0,57 persen atau 102 poin ke posisi Rp18.111 per dolar AS.

Pada Senin kemarin, rupiah ditutup turun 0,26 persen ke level Rp 18.009 per dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah berlanjut, setelah pengumuman pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

"Rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar AS. Pelemahan disebabkan sentimen negatif investor merespon pengunduran diri gubernur BI kemarin," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Selasa, 28 Juli 2026.

Dia memprakirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.100 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS masih bertahan di level tertinggi dalam sebulan ini, di kisaran 101,48-101,55.

Sementara itu Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa mengatakan, depresiasi rupiah sudah mencapai 8 persen. Depresiasi sebesar itu dihitung mulai awal Januari 2026 hingga hari ini.

"Kondisi itu menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan," ucap Jessica. Sejalan dengan memburuknya sentimen pasar, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat meskipun imbal hasil obligasi negara AS (UST) menurun.

Spread imbal hasil antara SBN dan UST tenor 10 tahun melebar menjadi 274 basis poin, sedangkan tenor dua tahun 284,9 bps

"Ini menunjukkan investor meminta premi risiko yang lebih tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik. Spread imbal hasil Indonesia masih menarik, diprakirakan tetap akm menopang minat investor asing dalam jangka menengah," ujar Jessica.

Minat investor asing yang masih tinggi itu, diharapkan akan mendorong aliran masuk modal asing. Sehingga bisa mendorong penguatan rupiah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....