Penutupan Perdagangan, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS

  • 27 Jul 2026 19:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,26 persen atau 46 poin ke posisi Rp18.009 per dolar AS
  • Pasar merespon negatif mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dari jabatannya
  • Dari sisi eksternal, perkembangan konflik AS-Iran masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,26 persen atau 46 poin ke posisi Rp18.009 per dolar AS.

“Pasar merespon negatif mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dari jabatannya. Pengunduran diri Perry bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Ibrahim, pelemahan nilai tukar rupiah membuat Presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi BI. Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio pernah meminta Gubernur BI mundur karena dianggap gagal menjaga stabilitas rupiah.

Di sisi lain, Ibrahim mencermati rasio utang Indonesia sudah berada di level 40 persen dari Produk Domestik Bruto. Tingkat utang dikaitkan dengan kemampuan pemerintah membayar utang dan serta kualitas penggunaan utang tersebut.

Hal tersebut menjadi indikator lembaga internasional seperti IMF untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara. Namun, menurut Ibrahim, ada indikator yang lebih penting yang patut menjadi perhatian.

“Yakni rasio pembayaran utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut, lebih menggambarkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya,” ujar Ibrahim.

Dari sisi eksternal, perkembangan konflik AS-Iran masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang. AS menyatakan akan menghentikan serangannya sementara ke Iran dan mengklaim akan melakukan upaya diplomatik.

“Meski demikian masih terlalu dini menyimpulkan meredanya ketegangan akan bertahan lama,” ucap Ibrahim. Meski Tiongkok disebut ikut berupaya agar AS-Iran kembali melakukan pembicaraan damai.

Sementara itu kekhawatiran akan pasokan minyak mentah semakin meningkat. Lalu lintas kapal sangat terbatas karena penutupan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi.

Dari sisi ekonomi, Ibrahim melihat potensi kenaikan suku bunga the Fed tetap terbatas. Sentimen pasar, menurutnya, masih terikat dengan narasi the Fed yang cenderung ‘hawkish’ (ketat).

Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan, pasar sekarang melihat peluang 78 persen, potensi kenaikan suku bunga di bulan September. Dalam pertemuan bulan Juli kemarin, the Fed memprakirakan suku bunga tidak berubah atau tetap,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....