IHSG Ditutup Menguat Tembus 6.000 pada Perdagangan Hari Ini

  • 13 Jul 2026 19:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 1,92 persen ke level 6.073,84 dan berhasil menembus level psikologis 6.000.
  • Penguatan didukung sentimen positif global, stabilnya harga minyak, serta meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
  • Pelaku pasar masih mencermati pergerakan rupiah, arus dana asing, dan tingginya aktivitas IPO di pasar domestik.

RRI.CO.ID, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Pada akhir sesi II, IHSG berada di level 6.037,84 atau naik sebesar 113,48 poin (1,92 persen).

Sejak awal perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif setelah dibuka pada level 5.934,71. Angka penutupan ini merupakan posisi tertinggi indeks pada perdagangan hari ini.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan mayoritas saham berada di zona positif. Sebanyak 377 saham menguat, 250 saham melemah, dan 167 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,15 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 26,32 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,7 juta kali transaksi.

Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas pada perdagangan hari ini. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 5.640 dan resistance 6.000.

Tim Pilarmas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati pelaku pasar, yakni ARCI, BMRI, MINA, dan TAPG. Sentimen positif juga datang dari pasar global, seiring stabilnya harga minyak dunia dan meredanya kekhawatiran kebijakan suku bunga The Fed.

Kondisi tersebut turut mendukung penguatan sektor perbankan dan manufaktur di berbagai bursa dunia. Hal ini yang turut memberikan pengaruh positif terhadap pergerakan pasar saham domestik.

Sementara, riset harian FAC Sekuritas memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini cenderung bergerak mixed. FAC Sekuritas menyebut pergerakan IHSG didorong meredanya kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga global.

"Selain itu, sentimen domestik juga dinilai cukup solid seiring tingginya aktivitas penawaran umum perdana saham atau IPO. Aksi beli selektif pada saham-saham blue chip yang sudah terkoreksi juga turut menopang pergerakan pasar," katanya.

Kondisi tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan tekanan jual dari investor asing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....