BI Rate Naik Lagi, Rupiah Tetap Melemah hingga Penutupan Perdagangan Hari Ini
- 18 Jun 2026 16:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Investor sedang menahan diri karena menunggu dua keputusan penting dari MSCI. Yakni keputusan apakah status pasar modal Indonesia dipertahankan di kelompok emerging market atau dan apakah pembekuan konstituen akan dicabut
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun sebesar 0,18 persen atau 32 poin ke posisi Rp17.794 per dolar AS
- Rapat Dewan Gubernur BI bulan Juni memutuskan untuk menaikkan kembali BI Rate sebesar 26 basis poin menjadi 5,75 persen
RRI.CO.ID, Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga lagi menjadi 5,75 persen tidak mampu mendongkrak nilai tukar rupiah. Rupiah tetap melemah hingga penutupan perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun sebesar 0,18 persen atau 32 poin ke posisi Rp17.794 per dolar AS. “Pasar Indonesia memang tengah mengalami tekanan dan volatilitas tinggi akibat sikap ‘wait and see’ pelaku pasar,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Ibrahim, investor sedang menahan diri karena menunggu dua keputusan penting dari MSCI. Yakni keputusan apakah status pasar modal Indonesia dipertahankan di kelompok emerging market atau dan apakah pembekuan konstituen akan dicabut.
Pada pengumuman ‘rebalancing’ sebelumnya, MSCI membekukan penambahan konstituen saham baru untuk Indonesia. Pembekuan tersebut didasari oleh kekhawatiran terkait struktur kepemilikan dan transparansi free float.
Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur BI bulan Juni memutuskan untuk menaikkan kembali BI Rate sebesar 26 basis poin. Sehingga suku bunga BI menjadi 5,75 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, keputusan menaikkan kembali suku bunga, untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu sebagai langkah ‘pre-emptive’ untuk menjaga inflasi di kisaran target 2,5±1persen tahun 2026 dan 2027.
Sementara itu, dari faktor eksternal, AS-Iran dilaporkan sudah menandatangani nota kesepahaman kesepakatan damai. Penandatangan dilakukan di istana Versailles, Prancis pada Rabu, 17 Juni 2026 waktu setempat.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyaksikan penandatanganan yang dilakukan saat jamuan makam malam. Presiden Trump berada di Prancis untuk menghadiri pertemuan KTT G7.
Setelaha penandatangan nota kesepahaman, pasar menantikan realisasi kesepakatan damai yang rencananya akan diteken di Swiss. “Perkembangan ini dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur utama Selat Hormuz,” ucap Ibrahim.
Bank Sentral AS, the Fed, juga mengumumkan kebijakannya mempertahankan suku bunga 3,5-3,75 persen. Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) juga mengisyaratkan kebijakan moneter yang masih ketat .
“The Fed juga memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun 2026. Ketua the Fed, Kevin Warsh menunjukkan sikap tegas terhadap inflasi, menekankan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....