Rupiah Tertekan pada Pembukaan Perdagangan jelang Pengumuman BI Rate
- 18 Jun 2026 11:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Rupiah dibuka turun 0,53 persen atau 95 poin ke posisi Rp17.857 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis18 Juni 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,53 persen atau 95 poin ke posisi Rp17.857 per dolar AS.
Sehari sebelunya, rupiah juga melemah 0,21 persen ke posisi Rp17.762 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS, yang menguat setelah pengumuman suku bunga The Fed," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga mengisyaratkan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. “Sehingga memicu sentimen risk off di mana pasar menghindari risiko,” ucapnya.
Lukman memprakirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.750-Rp17.900 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS diproyeksi menguat ke level 100,31-100,38.
Di dalam negeri, sentimen pasar akan dipengaruhi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) terkait BI Rate. Keputusan mengani suku bunga acuan tersebut akan diumumkan pada Kamis 18 Juni 2026 siang.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas memprakirakan BI akan mempertahankan suku bunga 5,5 persen. “Ini dilakukan setelah akumulasi kenaikan 75 basis poin sejak Mei 2026,” kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Menurut dia, BI masih akan fokus pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Sehingga, keputusan suku bunga selanjutnya akan dilakukan secara berhati-hati berdasarkan data yang masuk.
“Arah rupiah dan sentimen risiko global menjadi pemicu utama keputusan kebijakan,” ujarnya. Rully memperkirakan BI akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen untuk mendorong rupiah menuju kisaran kenyamanan sekitar Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS.
Meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak membuka ruang lebih besar bagi stabilisasi nilai tukar. “Terutama dalam jangka pendek dan jangka menengah,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....