Rupiah Menguat Signifikan, BI: Pasar Respons Postif Kenaikan Suku Bunga

  • 12 Jun 2026 20:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Indonesia (BI) merespons penguatan rupiah yang cukup signifikan di akhir pekan ini
  • Penguatan rupiah menurut BI, karena pasar merepons positif bauran kebijakan BI termasuk keputusan menaikkan suku bunga
  • Untuk memperkuat ketahanan eksternal, tambahnya, BI juga memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC)

RRI.CO.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) merespons penguatan rupiah yang cukup signifikan di akhir pekan ini. BI mencatat rupiah pada penutupan perdagangan hari ini di posisi Rp17.865 per dolar AS.

Posisi itu menguat tajam dibandingkan posisi pada akhir pekan sebelumnya, Jumat, 5 Juni 2026. Rupiah di hari itu ditutup di level Rp18.010 per dolar AS.

“Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, Jumat, 12 Juni 2026. BI meyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya.

Destry juga mengatakan, kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen mendapat respons positif pada investor. Didukung daya tarik instrumen keuangan domestik, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif.

Aliran masuk modal asing melalui transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) meningkat pada 10 dan 11 Juni 2026. Inflow melalui SRBI tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan melalui SBN tercatat sebesar Rp3,91 triliun.

Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara, pada saat penjualan perdana mencapai Rp26,9 triliun. “Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ucap Destry.

Selain menaikkan BI Rate, BI memang mengambil sejumlah langkah lainnya dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah. Yaitu, memperkuat struktur bunga SRBI dan pemberian insentif hedging (lindung nilai) swap bagi investor asing.

“BI juga membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan dan meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah serta valuta asing. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah,” kata Destry menegaskan.

Untuk memperkuat ketahanan eksternal, tambahnya, BI juga memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC). Serta menjalin kerja sama dengan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Ada tiga kesepakatan yang dilakukan BI dengan ketigas otoritas moneter tersebut. Pertama, sinergi untuk memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara dan memperkuat stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas.

Kedua, penguatan kerja sama Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA). Ketiga, penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

Menurut Destry, langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. “BI juga akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur,” ujarnya.

Pada saat yang sama, BI akan memperkuat kordinasi dengan pemerintah dan semua pemanku kepentingan. Supaya stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia tetap terjaga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....