Kembali Anjlok 4,11 Persen, IHSG Turun ke Level 5.941 pada Perdagangan Sesi II Hari Ini

  • 03 Jun 2026 16:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup anjlok 4,11 persen ke level 5.941 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.
  • Tekanan pasar dipicu sentimen global, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga minyak dunia.
  • Moody’s memberi outlook negatif terhadap Danantara Investment Management yang memengaruhi sentimen investor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. IHSG merosot 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941 pada akhir sesi II perdagangan.

Padahal pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona hijau setelah dibuka pada level 6.207,10. Indeks bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi di level 6.213,8 sebelum akhirnya berbalik melemah tajam.

Sepanjang perdagangan, pergerakan IHSG cenderung fluktuatif dengan tekanan jual yang dominan. Sebanyak 692 saham melemah, 69 saham menguat, dan 54 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,16 triliun dengan volume perdagangan 39,81 miliar lembar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,7 juta kali transaksi sepanjang perdagangan.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menyebut sejumlah faktor global dan domestik menjadi pemicu tekanan terhadap IHSG. Hingga menjelang penutupan sesi pertama, indeks bahkan telah melemah lebih dari empat persen dan menembus level psikologis 6.000.

“Hingga menjelang penutupan sesi I perdagangan 3 Juni 2026. IHSG melemah lebih dari 4 persen, menembus level psikologis 6.000 hingga mendekati level 5.900,” ujar Tim Riset Phintraco Sekuritas dala, pernyataan tertulis, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Phintraco Sekuritas, pasar mencermati penilaian Moody's Ratings terhadap Danantara Investment Management. Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif yang dinilai memengaruhi sentimen investor.

Selain itu, pelemahan rupiah juga turut menjadi perhatian pasar. Rupiah tercatat melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar AS seiring kembali menguatnya harga minyak dunia.

“Rupiah kembali tertekan, melemah menembus level Rp17.926 per dolar AS. Yang antara lain disebabkan oleh berbalik menguatnya kembali harga minyak dunia,” kata Tim Phintraco Sekuritas.

Kenaikan harga minyak dipicu belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit APBN dan meningkatnya laju inflasi domestik.

Tim Phintraco Sekuritas mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut dinilai menambah kecemasan pasar terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri di tengah tekanan global.

“Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS-Iran telah mendorong penguatan harga minyak. Sehingga menimbulkan kecemasan akan meningkatnya laju inflasi,” ujar rilis tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....