Anjlok 4,94 Persen, IHSG Sesi I Ditutup Melemah ke Level 5.889

  • 03 Jun 2026 12:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG melemah 4,94 persen pada penutupan sesi I perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.
  • Indeks turun 305,94 poin ke level 5.889,48 dari posisi pembukaan 6.207,1.
  • IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.213,8 dan terendah 5.876,32.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 4,94 persen atau 305,94 poin ke level 5.889,48, setelah dibuka pada level 6.207,1.

Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.213,8. Sedangkan, untuk angka terendah berada di level 5.876,32.

Sebelumnya, Tim Riset Phintraco Sekuritas mengatakan sejumlah faktor global dan domestik memicu koreksi IHSG pada perdagangan hari ini. Hingga menjelang penutupan sesi pertama, IHSG melemah lebih dari 4 persen dan menembus level psikologis 6.000.

Tekanan pasar dipengaruhi sejumlah sentimen yang menjadi perhatian investor. Faktor tersebut berasal dari kondisi pasar keuangan domestik maupun perkembangan ekonomi global.

“Hingga menjelang penutupan sesi I perdagangan 3 Juni 2026, IHSG melemah lebih dari 4 persen. Menembus level psikologis 6000, hingga mendekati level 5900,” ujar Tim Riset Phintraco Sekuritas yang dikutip RRI, Rabu, 3 Juni 2026.

Tim Phintraco Sekuritas menyebut salah satu sentimen yang diperhatikan pasar adalah penilaian Moody's Ratings terhadap Danantara Investment Management. Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif bagi lembaga tersebut.

Penilaian tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Pasar juga mencermati berbagai perkembangan yang berkaitan dengan kondisi investasi nasional.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Rupiah kembali melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat.

Tim Phintraco menilai kondisi tersebut berkaitan dengan kembali menguatnya harga minyak dunia. Situasi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap defisit APBN dan laju inflasi.

“Rupiah kembali tertekan, melemah menembus level Rp17,926/USD, yang antara lain disebabkan oleh berbalik menguatnya kembali harga minyak dunia. Yang menambah kekhawatiran pasar akan potensi melebarnya defisit APBN serta meningkatnya laju inflasi,” kata Tim Phintraco Sekuritas.

Tim Riset Phintraco Sekuritas juga menyoroti belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong penguatan harga minyak yang sebelumnya sempat terkoreksi.

Penguatan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi. Pada Mei 2026, inflasi tercatat mencapai 3,08 persen secara tahunan.

“Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS-Iran telah mendorong penguatan harga minyak yang sebelumnya sempat koreksi. Sehingga menimbulkan kecemasan akan meningkatnya laju inflasi, di mana inflasi pada Mei 2026 telah meningkat hingga 3.08 persen YoY,” ucap Tim Phintraco Sekuritas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....