Penjelasan BI Mengapa Rupiah Melemah Padahal Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat
- 08 Mei 2026 21:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan mengapa nilai tukar rupiah terus melemah, meski fundamental ekonomi kuat. Sehingga BI harus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valas domestik maupun pasar luar negeri
- Menurut Perry, saat ini hampir seluruh mata uang di dunia melemah, penyebabnya adalah faktor global sedangkan di dalam negeri karena adanya faktor musiman
- Tujuh langkah yang dilakukan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan langkah yang biasa. “Langkah itu merupakan langkah ‘all out’
RRI.CO.ID, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan mengapa nilai tukar rupiah terus melemah, meski fundamental ekonomi kuat. Sehingga BI harus melakukan intervensi besar-besaran di pasar valas domestik maupun pasar luar negeri.
Menurut Perry, saat ini hampir seluruh mata uang di dunia melemah, penyebabnya adalah faktor global. “Kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik, tingkat suku bunga di AS yang meningkat dan dolar nya menguat,” kata Gubernur Perry saat keterangan pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSS), Kamis, 7 Mei 2026.
Selain itu, terjadi aliran keluar modal asing dari seluruh negara ‘emerging market’, sehingga mata uangnya melemah. Di Indonesia, jelas Perry, ditambah adanya faktor musiman.
Salah satunya musim haji, di mana permintaan akan dolar AS meningkat. “Kita pastikan jemaah haji yang membutuhkan dolar dapat terpenuhi,” ucap Perry.
Selain itu, di bulan April dan Mei adalah masa di mana korporasi membutuhkan banyak mata uang dolar AS. “Mereka membutuhkan dolar AS untuk repatriasi dividen atau untuk membayar utang luar negeri, baik dan dan pokoknya,” ujar Perry.
Karenanya tujuh langkah yang dilakukan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan langkah yang biasa. “Langkah itu merupakan langkah ‘all out’ dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry menegaskan.
Meskipun akibatnya cadangan devisa Indonesia menurun sejak Januari-April 2026. Karena intervensi yang dilakukan di pasar valas dalam dan luar negeri cukup besar, namun tetap terukur.
“Tolong diingat, cadangan devisa itu kita kumpulkan pada saat panen inflow (aliran masuk modal asing) besar. Makanya kita gunakan, saat paceklik, dimana terjadi outflow (aliran keluar modal asing) jumlahnya besar,” ujar Perry
Sepanjang hari ini, nilai tukar rupiah terpantau melemah dan ditutup pada level Rp17.382 per dolar AS. Rupiah tertekan dolar yang kembali menguat akibat situasi perang AS-Iran yang kembali memanas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....