Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah Tertekan Sentimen Konflik AS-Iran

  • 08 Mei 2026 19:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Di dalam negeri, pasar mencermati data utang pemerintah yang tembus Rp9.920,42 triliun hingga 31 Maret 2026
  • Pelemahan rupiah berlanjut hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,28 persen atau 49 poin menjadi Rp17.382 per dolar AS
  • Pertempuran AS-Iran yang kembali pecah sekaligus memupuskan harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz.  Begitu pula dengan prospek perdamaian di Timur Tengah

RRI.CO. ID, Jakarta – Pelemahan rupiah berlanjut hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,28 persen atau 49 poin menjadi Rp17.382 per dolar AS.

Perkembangan konflik AS-Iran kembali menjadi penekan utama rupiah terhadap dolar AS. “Pertempuran antara AS dan Iran kembali pecah, membuat gencatan senjata semakin rapuh,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 8 Mei 2026.

Pertempuran itu sekaligus memupuskan harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz. Begitu pula dengan prospek perdamaian di Timur Tengah.

AS mengklaim serangannya adalah balasan atas tembakan Iran ke kapal angkatan laut AS di Selat Hormuz. Iran juga menyebut tembakan tersebut balasan atas serangan AS sebelumnya terhadap kapal tanker Iran dan kapal lainnya.

Dari sisi ekonomi, pelaku pasar mencermati pernyataan sejumlah pejabat the Fed terkait suku bunga. Beth Hammack dari Fed Cleveland misalnya, menyatakan suku bunga akan tetap stabil untuk beberapa waktu.

Sedangkan Mary Daly dari Fed San Francisco menyatakan berkomitmen untuk mengendalikan inflasi ke target 2 persen. Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari,mengatakan inflasi masih terlalu tinggi mash tingg.

Pasar selanjutnya fokus ke data ketenagakerjaan AS untuk bulan April, yang akan dirilis malam nanti. “Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan untuk bulan April, sementara tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen.” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, pasar mencermati data utang pemerintah yang tembus Rp9.920,42 triliun hingga 31 Maret 2026. Jumlah naik hampir 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

“Sehingg rasio utang sampai akhir triwulan I 2026 sebesar 40,75 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Masih di bawah standar internasional, yakni 60 persen dari PDB,” ujar Ibrahim.

Lembaga internasional, tambah Ibrahim, ikut menyoroti utang pemerintah. Sementara pemerintah menegaskan bahwa utang dikelola dengan cermat dan terukur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....