Bank Indonesia Ungkap Penyebab Tekanan Terhadap Rupiah

  • 06 Mei 2026 12:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 1. Fundamental ekonomi Indonesia kuat sehingga rupiah stabil dan menguat
  • 2. Harga minyak mentah dunia yang tinggi berdampak tekanan terhadap nikai tukar rupiah
  • 3. Permintaan dolar sepanjang April-Mei tinggi

RRI.CO.ID, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut ada dua faktor penyebab ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah namun bersifat jangka pendek. Ia menyebut dua faktor itu dari eksternal atau global dan faktor musiman.

Faktor global yakni harga minyak mentah dunia tinggi imbas dari gangguan keamanan di Timur Tengah karena perang Iran dan Amerika Serikat. Otoritas Iran menutup jalur pelayaran penting Selat Hormuz yang mengakibatkan pasokan minyak dunia terganggu.

"Suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat," kata Perry dalam keterangan di Istana Merdeka, Selasa, 5 Mei 2026.

Adapun faktor musiman seperti permintaan dolar yang tinggi sepanjang April hingga Mei 2026. Permintaan dolar yang tinggi untuk aktivitas seperti kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jemaah haji.

Perry mengatakan seharusnya nilai tukar rupiah menguat dan stabil karena Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026, sangat tinggi 5,61 persen bahkan mengungguli pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Amerika Serikat.

Selanjutnya inflasi rendah yaitu 2, 4 persen atau turun dari 3,48 persen pads periode Maret 2026. Pertumbuhan kredit tinggi 9, 49 persen, kinerja ekspor dan impor yang tetap positif dan cadangan devisa yang kuat.

"Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat. Tapi rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat," kata Perry.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan ekonomi yang meningkat menjadi 5,61 persen dari sebelumnya 5,39 persen merupakan sinyal positif. Bahwa arah ekonomi nasional mulai berbalik menuju fase ekspansi yang lebih kuat.

Menurut Purbaya, tren ini mencerminkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam mendorong pemulihan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap stabil.

“Ekonomi kita sedang mengalami akselerasi, jelas ekonomi sedang menuju pertumbuhan yang lebih cepat. Kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga kondisi likuiditas," kata Menteri Purbaya.

Pemerintah akan menggelontorkan stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi pada triwulan kedua, salah satunya akan diumumkan pada 1 Juni 2026. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan.

Diversifikasi sumber pembiayaan salah satunya dengan rencana penerbitan obligasi dalam bentuk Panda bonds di Tiongkok dengan tingkat bunga yang lebih kompetitif. Upaya tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.

“Untuk memperkuat nilai tukar, kami akan menerbitkan bonds, dalam Panda bonds di Cina dengan bunga yang lebih rendah. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan,” ujar Purbaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....