Rupiah Dibuka Menguat setelah Pertemuan Gubernur BI dan Presiden
- 06 Mei 2026 10:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menurut Bloomberg rupiah dibuka naik 0,29 persen menjadi Rp17.373 per dolar AS dari penutupan sehari sebelumnya yang anjlok hingga Rp17.423 per dolar AS.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terpantau berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 6 Mei 2026. Menurut Bloomberg rupiah dibuka naik 0,29 persen menjadi Rp17.373 per dolar AS.
Sehari sebelumnya, rupiah turun 0,17 persen menjadi Rp17.423 per dolar AS. Ini membuatnya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di Asia bersama Rupee India dan Peso Filipina.
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi menguat. Menurut dia, hal ini seiring degan melemahnya dolar AS.
Perubahan pergerakan mata uang ini didorong oleh harapan perdamaian di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, mengklaim terjadi kemajuan dalam upaya negoisasi kembali dengan Iran.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.350-17.450 per dolar AS. Sementara itu indeks dolar AS akan berada di level 98.
Rupiah menguat setelah Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa kemarin. Selain itu hadir Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Usai pertemuan, Perry mengakui bahwa nilai tukar rupiah sudah undervalued. Artinya, kondisi nilai tukar mata uang tersebut sudah lebih rendah dari yang seharusnya.
Perry menegaskan BI sudah melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Di antaranya melalui intervensi pasar di pasar luar negeri, domestik, termasuk dengan membeli SBN di pasar sekunder.
Menurut dia, ada dua hal yang mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah yaitu faktor global dan faktor musiman. Faktor global berupa kenaikan harga minyak dunia dan suku bunga tinggi di AS yang memicu penguatan dolar.
Aliran keluar modal asing dari pasar saham, lanjut Perry, juga melemahkan nilai tukar rupiah. Sedangkan faktor musiman dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS pada April 2026 dan kemungkinan hingga dua bulan berikutnya.
“Meningkatnya permintaan dolar AS karena jadwal pembayaran utang, pembayaran repatriasi deviden, dan musim haji,” ucapnya. Perry menegaskan rupiah akan kembali menguat seiring langkah stabilisasi dan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....