IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.663, Berpotensi Volatil Dipengaruhi Sentimen Global
- 20 Apr 2026 10:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka menguat ke 7.663, namun berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan penguatan terbatas.
- Sentimen geopolitik, khususnya dinamika Selat Hormuz dan harga minyak, menjadi faktor utama penggerak pasar.
RRI.CO.ID Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 20 April 2026. IHSG mengawali sesi di level 7.663,39.
Penguatan ini terjadi setelah IHSG ditutup di zona hijau pada Jumat, 17 April 2026. Saat itu, indeks berada di level 7.634 atau naik 0,17 persen.
Namun setelah pembukaan, pergerakan IHSG mulai berbalik arah. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.671,98 sebelum mengalami tekanan.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pasar saat ini bergerak sangat cepat. Ia menyebut perubahan sentimen dipicu faktor geopolitik global.
“Sempat dibukanya Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak hingga sekitar 11% dan mengangkat indeks global. Namun penutupan kembali jalur tersebut oleh Iran langsung membalikkan sentimen,” ujarnya Senin, 20 April 2026.
Namun penutupan kembali jalur tersebut oleh Iran langsung membalikkan sentimen pasar. Hal ini menegaskan bahwa jalur distribusi energi global masih menjadi faktor utama penggerak pasar.
Hendra menilai kondisi ini menciptakan dua arah bagi IHSG. Di satu sisi, penurunan harga minyak memberi ruang bagi sektor perbankan, konsumsi, dan transportasi.
“Di satu sisi, penurunan harga minyak sebelumnya memberikan ruang napas bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi. Seperti perbankan, konsumsi, dan transportas,” katanya.
“Di sisi lain, jika penutupan Selat Hormuz berlanjut dan memicu kenaikan harga minyak kembali. Maka tekanan inflasi berpotensi meningkat,” ucapnya menambahkan.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan menguat terbatas. Indeks diproyeksikan berada di kisaran 7.550 hingga 7.740.
Dalam kondisi ini, investor disarankan bersikap selektif dan taktis. Saham berbasis energi dinilai menarik karena diuntungkan dari kenaikan harga komoditas.
PGAS menjadi salah satu saham yang menarik dicermati dengan target 2.020. ADRO juga dinilai prospektif dengan target 2.720.
Sementara itu, saham non-komoditas masih memiliki peluang untuk trading jangka pendek. SCMA direkomendasikan dengan target 340 seiring potensi pemulihan belanja iklan, GZCO menjadi pilihan spekulatif di sektor energi dengan target di kisaran 238.
Secara keseluruhan, arah IHSG dalam jangka pendek sangat dipengaruhi dinamika geopolitik dan harga minyak. "Selama ketidakpastian di Selat Hormuz masih tinggi, pasar cenderung bergerak fluktuatif dengan bias defensif,” kata Hendra.
Menurut dia, meski volatil, peluang tetap terbuka bagi investor yang tepat dalam membaca momentum. “Peluang tetap terbuka, khususnya pada saham-saham energi dan trading opportunity jangka pendek bagi investor yang jeli membaca momentum,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....