Gejolak Geopolitik Bayangi Pasar, Investor Masih Enggan Ambil Risiko
- 13 Apr 2026 17:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konflik AS–Iran dan kegagalan negosiasi picu sentimen negatif global, membuat investor cenderung bersikap hati-hati (prudent).
- Investor disarankan fokus pada saham fundamental kuat, sementara emas jadi pilihan aman jangka panjang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran nampaknya masih belum terlihat ujungnya. Kegagalan negosiasi antara Washington dan Teheran baru-baru ini picu kekhawatiran serius salah satunya pada pengaruh pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji menjelaskan pergerakan pasar uang global masih bergerak sangat dinamis. Seperti mayoritas bursa saham di kawasan Asia dan Eropa yang saat ini berada di zona negatif.
Lebih lanjut, Nafan menyebut IHSG sempat melemah 1,43 persen, namun berhasil menguat 0,74 persen pada sesi kedua perdagangan. "Mungkin itu lebih didorong oleh sentimen domestik yang mempengaruhi pasar, seperti penjualan retail Indonesia yang memang mengalami pertumbuhan di atas ekspektasi," ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin, 13 April 2026.
Menurutnya, saat ini para investor cenderung memilih bersikap prudent dan melakukan langkah risk averse (enggan ambil risiko). "Wajar saja ketika kebuntuan negosiasi itu terjadi, dan harapan de-eskalasi belum terlihat, pelaku investor lebih cenderung memilih untuk bersikap prudent," kata Nafan.
Selain itu, ia menyampaikan nilai tukar rupiah juga masih berada di atas level 17.100 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini masih cenderung terdepresiasi," kata dia.
Ia mengatakan, Bank Indonesia (BI) diharapkan melakukan intervensi guna mencegah terjadinya risiko capital outflow yang berkelanjutan. "Karena di pasar modal kita saat ini tuh sudah mengalami foreign outflow ya, di 32,27 triliun rupiah," katanya.
Investor disarankan tetap disiplin dalam manajemen risiko dan fokus pada saham dengan fundamental solid. Sektor energi dan material dasar memiliki valuasi menarik dengan rasio PE satu digit.
Di satu sisi, Nafan menyampaikan bahwa emas tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang sangat menarik dan cenderung aman bagi kalangan masyarakat awam. "Dalam satu dasawarsa ke depan, harga emas bisa mencapai angka lima digit," ucap Nafan.
Selain itu, potensi pemotongan suku bunga oleh The Fed dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas. Kondisi tersebut diharapkan mampu memperkuat rupiah serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....