IHSG Dibuka Melemah, Sentimen Global Masih Tekan Pergerakan Pasar
- 13 Apr 2026 09:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka terkoreksi tajam sebesar 1,32 persen ke level 7.359,97 pada Senin pagi, 13 April 2026, dipicu meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan jual investor.
- Kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan persepsi risiko, terutama karena potensi gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
- Pasar diprediksi akan bergerak volatil dalam jangka pendek dan investor disarankan tetap disiplin, menjaga porsi kas, serta menerapkan strategi "buy on weakness" pada sektor energi serta komoditas.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 13 April 2026. Pada awal sesi, IHSG turun ke level 7.359,97 atau terkoreksi 1,32 persen.
Ini terjadi setelah IHSG sebelumnya ditutup menguat di level 7.458,50 pada Jumat 10 April 2026. Tekanan jual terlihat sejak awal perdagangan seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kondisi ini dipicu faktor geopolitik. Menurut dia, kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran investor.
Hendra menambahkan situasi tersebut meningkatkan persepsi risiko di pasar global, termasuk Indonesia. Investor cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven.
“Jika sebelumnya pasar menikmati fase ‘tenang’, kondisi buntu dalam negosiasi tersebut kembali memunculkan ketidakpastian baru,” ujarnya. Bagi investor, situasi ini meningkatkan persepsi risiko, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat distribusi energi dunia.
Hendra menjelaskan kawasan Timur Tengah memiliki peran vital dalam distribusi energi dunia. Ketegangan di wilayah itu berpotensi mengganggu jalur perdagangan minyak global.
Kondisi ini membuat pasar saham berisiko mengalami tekanan dan volatilitas meningkat. Aliran dana asing juga diperkirakan menjadi lebih fluktuatif di wilayah emerging market.
“Ketika risiko geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham,” ucapnya. “Dampaknya, pasar saham berpotensi mengalami tekanan, volatilitas meningkat, serta aliran dana asing menjadi lebih fluktuatif.”
Untuk jangka pendek, IHSG diproyeksikan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan volatil. Menurut Hendra, ruang penguatan kemungkinan terbatas meski masih ada peluang kenaikan.
“Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area resistance pada kisaran 7.500 hingga 7.550,” ucapnya. Sementara di sisi bawah terdapat potensi menguji kembali area gap pada level 7.308–7.346 yang menjadi area support penting dalam jangka pendek.
Dalam skenario negatif, IHSG bisa terkoreksi ke level 7.300 hingga 7.200. Hal ini dapat terjadi jika tensi geopolitik semakin meningkat.
Sebaliknya, IHSG berpeluang menguat ke 7.550 hingga 7.600 jika sentimen global membaik. Namun penguatan diperkirakan masih terbatas dan belum cukup membentuk tren jangka panjang.
Hendra menyarankan investor tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko. Strategi buy on weakness dinilai lebih relevan saat ini, dengan memanfaatkan koreksi sebagai momentum akumulasi bertahap.
Investor juga disarankan menjaga porsi kas di tengah potensi volatilitas tinggi. Diversifikasi sektor menjadi langkah penting menghadapi ketidakpastian pasar, misalnya pada sektor energi dan komoditas.
“Secara keseluruhan, pasar saat ini masih berada dalam fase sensitif terhadap sentimen eksternal,” katanya. Sehingga, kunci utama bagi investor adalah tetap rasional, tidak reaktif, dan fokus pada peluang dengan risk-reward yang terukur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....