IHSG ‘Rebound’ di Tengah Penantian Kebijakan BI Rate
- 17 Mar 2026 11:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)di Bursa Efek Indonesia (BEI) berbalik menguat di sesi perdagangan pertama
- Sentimen pasar modal dipengaruhi kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan ketegangan di Teluk Persia
- Bank Indonesia akan mengumumkan suku bunga (BI Rate) usai Rapat Dewan Gubernur BI hari ini
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat di sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Sejak pembukaan perdagangan hingga pukul 11.30 WIB, IHSG berada di level 7.102 atau naik 1,15 persen.
Pada penutupan perdagangan hari Senin, IHSG anjlok 1,61 persen ke level 7.022 . Namun penurunan IHSG disertai net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp178 miliar.
Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah EMAS, AADI, ARCI,BUMI dan PTBA. “IHSG hari ini berpotensi berbalik menguat (rebound), level support di 6.950-7.000 dan level resistansi di 7.080-7.130,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Selasa, 17 Maret 2026.
Fanny menyebut ketegangan di Teluk Persia yang memicu kenaikan harga minyak, masih mempengaruhi sentimen pasar saham global. Pasar saham di Amerika Serikat menguat karena ditopang oleh kenaikan saham-saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
Sedangkan pasar saham di Asia Pasifik bergerak bervariasi karena tekanan harga energi. “Kenaikan harga energi diperkirakan mendorong kenaikan inflasi dan membuat bank-bank sentral mengambil kebijakan baru pada minggu ini,” ucap Fanny.
“Bank-bank sentral sebagain besar kemungkinan akan menahan suku bunga, kecuali bank sentral Australia. Reserve Bank of Austalia kemungkinan menaikkan suku bunga 0,25 basis poin menjadi 4,1 persen, untuk menahan inflasi domestik,” ujar Fanny.
Bank Indonesia (BI) dalam dua hari ini juga menggelar Rapat Dewan Gubernur BI. Hari ini, BI akan mengumumkan hasil rapat utamanya kebijakan suku bunga (BI Rate).
Pada bulan Februari 2026, BI masih mempertahakan suku bunga di level 4,75 persen. Kebijakan itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.