Bursa Sepekan Menguat, Analis Sebut Penguatannya Masih Rentan

  • 17 Feb 2026 08:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang positif sepekan kemarin. Trend yang positif itu seiring berbagai langkah reformasi yang dilakukan BEI dan dua kali pertemuan dengan MSCI.

Dalam siaran pers minggukan BEI disebutkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 3,49 persen. IHSG pada akhir pekan, Jumat 13 Februari 2026, ditutup pada level 8.212 dari posisi 7.935,260 pada pekan sebelumnya.

Dalam perdagangan sepekan kemarin, peningkatan tertinggi terjadi pada volume traksaksi harian Bursa. Kenaikannya sebesar 4,7 persen menjadi 45,24 miliar lembar saham dari 43,20 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Kapitalisasi BEI juga naik sebesar 3,8 persen menjadi Rp14.889 triliun. Pada pekan sebelumnya, kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp14.431 triliun.

Namun untuk rata-rata nilai transaksi harian BEI, terjadi penurunan sebesar 6,27 persen menjadi Rp23,20 triliun. Sedangkan pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp24,75 triliun.

Investor asing masih melakukan aksi jual saham pada pekan kemarin, dengan jual bersih sebesar Rp2,03 triliun.

Mencermati perkembangan bursa saham sepekan kemarin, Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai penguatan IHSG belum sepenuhnya pulih. “Penguatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham Indonesia,” kata Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Hal tersebut, tambah Rully, tampak dari masih berlanjutnya aksi jual bersih (net outflow) investor asing. Terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA.

Rully juga mengatakan belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan. Meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meningkatkan kredibilitas dan investabilitas pasar.

“Kami menilai sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi. Potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing masih ada,” ujarnya.

Rully memperkirakan, arah pergerakan IHSG ke depan masih berpotensi masih fluktuatif dalam jangka pendek. Kondisi ini disebabkan ketidakpastian terkait keputusan akhir MSCI, arah arus modal asing, serta perkembangan sentimen eksternal.

Sentimen eksternal misalnya prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan pergerakan harga komoditas global. Sedangkan dari sisi domestik, peluang penguatan masih terbuka.

“Peluang itu harus ditopang kebijakan pemerintah dan regulator. Utamanya kebijakan yang mampu menegaskan komitmen terhadap peningkatan governance dan likuiditas pasar,” Rully menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....