BI: Daya Tahan EKSyar Teruji di Tengah Gejolak Global

  • 15 Feb 2026 13:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Sektor ekonomi dan keuangan syariah (EKSyar) tetap menunjukkan ketahanan di tengah tingginya ketidakpastian global. Hal ini tercermin dari pertumbuhan sektor Halal Value Chain (HVC) sebesar 6,2 persen di tahun 2025.

Pertumbuhannya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. "Pertumbuhan HVC ditopang oleh kinerja sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim dan modest fashion," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat peluncuran Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025 di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Berdasarkan kajian BI, kontribusi HVC terhadap PDB juga meningkat 155 basis poin. Yakni, dari 25,45 persen pada 2024 menjadi 27 persen pada 2025.

Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66 persen pada akhir 2025. Pertumbuhannya didukung insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun.

Kinerja pembiayaan syariah, menurutnya, juga didukung oleh berbagai program akselerasi, termasuk Bulan Pembiayaan Syariah. "Insentif tersebut mencapai 4,49 persen dari batas 5,5 persen per Desember 2025," ucap Destry.

Program tersebut, pada 2025 mencatat realisasi Rp939 miliar atau 60 persen di atas target Rp589 miliar. “Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Destry, menambahkan.

Kinerja positif keuangan syariah juga tercermin dari peningkatan pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah. Sektor ini tumbuh 86,5 persen menjadi USD466 juta.

Di sektor keuangan sosial, penyaluran ZIS melalui BAZNAS hingga Triwulan II-2025 mencapai Rp52,5 triliun. Penyalurannya hingga Februari 2026 meningkat 43 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp36,8 triliun.

Inovasi blended finance melalui Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22 persen dengan outstanding akhir 2025 sebesar Rp1,4triliun. "Peningkatannya ditopang oleh literasi ekonomi dan keuangan syariah yang kini mencapai 50,18 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023," ujar Destry.

Implementasi Blueprint EKSyar 2030 tambahnya, akan fokus pada penguatan rantai nilai halal, optimalisasi pembiayaan, serta perluasan literasi dan inklusi. BI, OJK dan pemangku kepentingan berkomitmen mempercepat transformasi sektor syariah sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang berdaya tahan.

Sementara itu, industri perbankan syariah mencatat kinerja yang postif sepanjang tahun 2025. Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae.

"Total aset mencapai all time high atau tertinggi sepanjang masa pada posisi Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92 persen. Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58 persen," kata Dian.

Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14 persen. "Karenanya, OJK optimis tren positif ini berlanjut pada 2026, seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Momentum ini, tambah Dian, menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain. Sekaligus untuk memperkuat visi Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada tahun 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....