BI Akselerasi Langkah Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia
- 15 Feb 2026 15:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan mempercepat integrasi halal value chain (HVC) dengan sistem pembiayaan syariah. Hal ini terungkap pada peluncuran "Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025", Jumat, 13 Februari 2026.
HVC atau rantai nilai halal merupakan rangkaian proses terintegrasi yang memastikan kehalalan produk secara menyeluruh. Mulai dari perolehan bahan baku, produksi, distribusi, pemasaran, hingga sampai ke tangan konsumen.
BI juga akan memperluas literasi dan inklusi guna meningkatkan skala dan daya saing industri syariah nasional. Strategi ini tidak hanya untuk memperkuat kontribusi sektor syariah terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.
Namun, ini juga bertujuan mengakselerasi langkah Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan, sektor ekonomi dan keuangan syariah tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 sebesar 5,11 persen, sektor HVC tumbuh 6,2 persen. Hal ini ditopang kinerja makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.
Kemudian kontribusi HVC terhadap PDB juga meningkat 155 basis poin dari 25,45 persen (2024) menjadi 27 persen (2025). Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66 persen pada akhir 2025.
Hal ini didukung insentif kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) syariah sebesar Rp35 triliun. Ini berarti mencapai mencapai 4,49 persen dari batas 5,5 persen per Desember 2025.
Kinerja pembiayaan syariah juga didukung berbagai program akselerasi, termasuk Bulan Pembiayaan Syariah yang pada 2025 mencatat realisasi Rp939 miliar. "Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Destry.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menambahkan industri perbankan syariah mencatat kinerja membanggakan sepanjang 2025. Menurut dia, total aset mencapai tertinggi sepanjang masa pada posisi Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92 persen per tahun.
Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58 persen per tahun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14 persen per tahun.
Menurut Dian, OJK merasa optimistis tren positif ini berlanjut pada 2026 seiring prospek pertumbuhan ekonomi nasional. "Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....