Ekspor Kerajinan Naik 28,59 Persen, Tembus Rp3,99 triliun pada Triwulan II 2026

  • 06 Okt 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ekspor industri kerajinan Indonesia mencapai USD223,1 juta (setara Rp3,99 triliun) pada triwulan II 2026, menunjukkan pertumbuhan yang kuat di sektor ini.
  • Nilai ekspor meningkat signifikan 28,59 persen dibandingkan triwulan II tahun 2025 yang hanya mencapai USD173,50 juta (Rp3,11 triliun).
  • Kementerian Perindustrian mengimplementasikan berbagai strategi pengembangan untuk memperkuat daya saing IKM kerajinan, termasuk inovasi desain, peningkatan kualitas, dan perluasan akses pasar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ekspor industri kerajinan mencapai USD223,1 juta (Rp3,99 triliun) pada triwulan II 2026. Nilai tersebut meningkat 28,59 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar USD173,50 juta (Rp3,11 triliun).

Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri kecil dan menengah kerajinan melalui berbagai program penguatan daya saing. Upaya tersebut meliputi peningkatan kualitas produk, inovasi desain, penguatan kapasitas SDM, pemanfaatan teknologi, dan perluasan akses pasar.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Potensi tersebut didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia.

“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus mendorong potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional,” ujar Reni di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Komoditas ekspor industri kerajinan mencakup barang anyaman dari rotan dan bambu. Produk lainnya meliputi anyaman dari tumbuhan selain rotan dan bambu, ukiran kayu, peralatan dapur, keramik, serta berbagai produk kerajinan lainnya.

Berdasarkan data Trade Map Januari-Juni 2026, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor kerajinan terbesar Indonesia. Pangsa ekspor ke negara tersebut mencapai sekitar 28 persen, diikuti Taiwan, Tiongkok, Jepang, dan Belanda.

Produk kerajinan Indonesia juga telah menjangkau sejumlah pasar lainnya. Negara tujuan tersebut antara lain Inggris, Jerman, Prancis, Australia, Spanyol, Malaysia, Korea Selatan, Belgia, Italia, dan India.

Menurut Reni, keikutsertaan dalam pameran penting bagi pengembangan IKM kerajinan. Pelaku usaha dapat berinteraksi langsung dengan konsumen, memperoleh respons pasar, membangun jejaring, serta menjajaki kerja sama bisnis.

“Melalui kegiatan ini, para perajin dan pelaku IKM memperoleh ruang untuk menampilkan karya terbaiknya, memperluas jejaring usaha. Sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan,” kata Reni.

Kementerian Perindustrian bersama Dewan Kerajinan Nasional juga menjalankan pembinaan melalui bimbingan teknis dan pendampingan di sentra IKM. Pembinaan tersebut mencakup pengembangan dan diversifikasi produk serta fasilitasi keikutsertaan dalam pameran kerajinan nasional.

Dalam Kriyanusa 2026, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka memfasilitasi delapan IKM binaan. Produk yang ditampilkan mencakup fesyen, aksesori, kerajinan tangan, tenun, dan berbagai produk kriya lainnya.

Selama lima hari pameran, delapan IKM binaan tersebut membukukan total transaksi Rp313 juta. Reni mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa produk IKM kerajinan nasional memiliki daya tarik dan peluang pasar yang kuat.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa produk IKM kerajinan nasional memiliki daya tarik dan peluang pasar yang kuat. Karena itu, kami mendorong pelaku IKM meningkatkan desain, kualitas, inovasi, serta kemasan agar mampu menjawab kebutuhan dan perubahan tren pasar,” ucap Reni.

Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kementerian Perindustrian Budi Setiawan menambahkan, pengembangan produk perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pelaku IKM perlu memperhatikan perubahan preferensi konsumen dalam mengembangkan produk kerajinan.

“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan yang ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar,” ujar Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....