Transaksi OVO Tumbuh 77 Persen, Didominasi Belanja “Receh”

  • 17 Jun 2026 21:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dalam lima tahun terakhir, total transaksi OVO bertumbuh 77 persen
  • Tahun 2025, mayoritas transaksi OVO atau sebesar 69 persen berasal dari merchant luring
  • Transaksi di merchant luring didominasi oleh transaksi pembelian makanan dan minuman (F&B), dengan porsi 36,7 persen pada Mei 2026 dan kebanyakan adalah transaksi "receh"

RRI.CO.ID, Jakarta – Sistem pembayaran digiltal semakin mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan sehari-hari. Penggunaannya bukan lagi sebatas untuk transaksi daring, tapi juga transaksi luring.

Hal tersebut terekam dalam pertumbuhan transaksi OVO dari tahun 2021-2025. “Dalam lima tahun terakhir, total transaksi OVO bertumbuh 77 persen,” kata Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal dalam acara OVOFin Talk “Bijak di Era Cashless” di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.

Menurut Haekal, selama rentang waktu tersebut, terdapat perubahan perilaku pengguna. Tahun 2021 mayoritas transaksi OVO atau sebesar 68 persen dari total transaksi, berasal dari merchant daring.

Sedangkan tahun 2025, mayoritas transaksi OVO atau sebesar 69 persen berasal dari merchant luring. Transaksi di merchant luring didominasi oleh transaksi pembelian makanan dan minuman (F&B), dengan porsi 36,7 persen pada Mei 2026.

“Dan kebanyakan transaksi di merchant luring, menggunakan QRIS. Hampir 99 persen pembayaran transaksi merchan luring di OVO terjadi karena adanya QRIS,” ujar Haekal.

Uniknya, belanja F&B melalui merchant luring kebanyakan belanja yang bisa disebut “receh”. Karena nominal transaksinya di bahwa Rp25.000, misalnya buat beli kopi, es krim, paket nasi ayam dan jajanan sederhana lainnya.

Pembelian seperti itu, menurut temuan OVO, dilakukan setiap hari. Tanpa terasa, jika diakumulasi, jumlah uang yang dikeluarkan cukup besar.

“Karena itu, kemudahan transaksi perlu dibarengi dengan literasi finansial agar pengguna lebih sadar dengan pola pengeluaran mereka. Dan memanfaatkan layanan digital dengan bijak, aman dan terencana,” kata Haekal menutup keterangannya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....