Ekspor Nonmigas Menguat, Kemendag Perkuat Penetrasi Pasar
- 08 Agt 2026 01:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan penguatan ekspor nonmigas membuktikan daya saing produk Indonesia tetap kuat menghadapi dinamika ekonomi global.
- Surplus perdagangan nonmigas Juni 2026 mencapai USD3,04 miliar, berhasil mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar USD3,49 miliar.
- Pemerintah akan memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, dan mengoptimalkan perjanjian perdagangan untuk meningkatkan ekspor nasional lebih lanjut.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan penguatan ekspor nonmigas menunjukkan daya saing produk Indonesia tetap terjaga menghadapi dinamika ekonomi global. Menurutnya, pemerintah akan memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan perjanjian perdagangan guna meningkatkan ekspor nasional.
Surplus perdagangan nonmigas Juni 2026 sebesar USD3,04 miliar, mampu mengimbangi defisit perdagangan migas senilai USD3,49 miliar nasional. Kondisi tersebut mempersempit defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 menjadi USD450 juta.
"Penguatan ekspor nonmigas menjadi bukti tetap terjaganya daya saing produk Indonesia. Pemerintah terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat," ujar Mendag Budi di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Secara kumulatif, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD3,58 miliar sepanjang Semester I 2026. Surplus tersebut ditopang perdagangan nonmigas sebesar USD19,35 miliar, sementara sektor migas mencatat defisit sebesar USD15,77 miliar.
Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD10,44 miliar selama Semester I 2026. Posisi berikutnya ditempati India sebesar USD6,73 miliar dan Filipina sebesar USD4,02 miliar.
Komoditas penyumbang surplus terbesar berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati senilai USD17,55 miliar. Bahan bakar mineral menyumbang USD13,61 miliar, sedangkan besi dan baja mencapai USD8,61 miliar.
Nilai ekspor Indonesia Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar, meningkat 9,72 persen bulanan dan 8,84 persen tahunan keseluruhan. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas mencapai USD24,39 miliar, naik 8,68 persen bulanan dan 9,46 persen tahunan.
Penguatan ekspor Juni turut menopang kinerja ekspor nasional Semester I 2026 mencapai USD140,81 miliar, meningkat 4,13 persen tahunan. Nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar USD134,58 miliar atau tumbuh 4,90 persen.
Sektor industri pengolahan kembali menjadi penopang utama ekspor nasional dengan kontribusi sebesar 82,02 persen terhadap total ekspor. Nilai ekspor sektor tersebut meningkat 7,37 persen dari USD107,57 miliar menjadi USD115,50 miliar pada Semester I 2026.
Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi berasal dari aluminium dan barang daripadanya yang melonjak 73,93 persen. Kenaikan juga terjadi pada nikel sebesar 62,27 persen, bahan kimia organik 31,93 persen, serta tembaga sebesar 29,03 persen.
Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai USD34,56 miliar selama Semester I 2026. Amerika Serikat mencatat ekspor USD15,82 miliar dan India USD9,25 miliar, sementara Hongkong memimpin pertumbuhan ekspor nonmigas.
"Pertumbuhan ekspor pada Juni menjadi sinyal positif memasuki Semester II 2026. Kami terus memperkuat penetrasi ke pasar-pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional agar ekspor Indonesia semakin berkelanjutan," kata Mendag.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia Juni 2026 mencapai USD25,91 miliar, naik 4,41 persen bulanan dan 34,27 persen tahunan. Secara kumulatif, impor Semester I 2026 mencapai USD137,24 miliar, tumbuh 18,69 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Budi menjelaskan peningkatan impor mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, serta aktivitas ekonomi nasional. Menurutnya, pertumbuhan impor juga menjadi indikasi meningkatnya aktivitas produksi dan perdagangan.
Struktur impor masih didominasi bahan baku atau penolong sebesar 71,37 persen. Disusul barang modal sebesar 19,94 persen dan barang konsumsi sebesar 8,69 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....