Pelaku Usaha Didorong Perkuat Permodalan Hadapi Fluktuasi Dolar

  • 08 Jun 2026 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tantangan Sektor Riil: Pelemahan rupiah ke Rp18.000 per dolar AS menjadi tantangan bagi industri manufaktur yang memiliki ketergantungan impor tinggi.
  • Langkah Efisiensi: Penyesuaian operasional dan restrukturisasi keuangan menjadi opsi bagi pelaku usaha guna menjaga keberlangsungan lapangan kerja.
  • Dukungan Kebijakan: Optimalisasi insentif fiskal dan tata kelola logistik diharapkan dapat membantu menjaga likuiditas dunia usaha.

RRI.CO.ID, Jakarta : Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu langkah antisipasi dari para pelaku industri manufaktur nasional. Sektor padat karya kini tengah merumuskan berbagai strategi mitigasi guna menjaga stabilitas operasional dan ketenagakerjaan.

Ekonom Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, menjelaskan bahwa penyesuaian biaya diperlukan karena sebagian besar bahan baku industri masih berbasis impor. Selain itu, fluktuasi ini memengaruhi beban korporasi yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang asing.

"Ketika cost dari industri manufaktur itu naik, mereka kan harus melakukan efisiensi," ujar Telisa saat diwawancarai RRI Pro3, dilansir dari Youtube RRI Pro3, Senin, 8 Juni 2026. Menurutnya, pengelolaan biaya tenaga kerja merupakan opsi terakhir yang diupayakan agar tidak mengganggu produktivitas.

Guna mendukung ketahanan industri, pelaku usaha didorong untuk memperkuat struktur permodalan melalui kemitraan strategis. Langkah ini dinilai penting untuk menyuntik likuiditas baru di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah juga diharapkan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan fiskal seperti evaluasi restitusi pajak dan PPN. Stimulus tersebut sangat dibutuhkan agar arus kas korporasi tetap terjaga dalam menghadapi kenaikan biaya produksi.

Selain stimulus fiskal, perusahaan disarankan menerapkan opsi pengurangan jam kerja terlebih dahulu dibanding langsung mengambil tindakan pemutusan hubungan. Pola adaptasi ini dinilai lebih bijak demi mempertahankan keseimbangan antara operasional usaha dan kesejahteraan pekerja.

Melalui sinergi yang kuat antara regulasi pemerintah dan fleksibilitas dunia usaha, tantangan ini diharapkan dapat dilewati dengan baik. Langkah bersama ini krusial untuk mempertahankan daya beli masyarakat serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....