Agrovoltaic Dinilai Jadi Solusi Integratif Energi dan Pertanian
- 06 Apr 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Model ini memungkinkan produksi listrik tenaga surya berjalan berdampingan dengan aktivitas pertanian dalam satu lahan
- Meski menawarkan solusi, Andrie mengingatkan bahwa agrovoltaic bukan konsep yang bisa diterapkan tanpa perencanaan matang
- Diperlukan pengaturan teknis seperti ketinggian panel, jarak antarbaris, hingga kesesuaian jenis tanaman
RRI.CO.ID, Jakarta - Perdebatan antara pengembangan energi surya dan perlindungan lahan pertanian dinilai perlu segera diakhiri. Indonesia didorong meninggalkan pendekatan yang mempertentangkan energi bersih dengan kedaulatan pangan.
Pakar hukum Andrie Taruna menilai konsep agrovoltaic atau agrivoltaics menjadi solusi integratif bagi masa depan. Model ini memungkinkan produksi listrik tenaga surya berjalan berdampingan dengan aktivitas pertanian dalam satu lahan.
“Negara modern tidak dibangun dengan logika memilih satu kebutuhan strategis lalu mengorbankan yang lain. Ia dibangun dengan kemampuan merancang integrasi,” ujar Andrie dalam keterangannya, Senin, 6 April 2026.
Menurutnya, sudah saatnya Indonesia berhenti mempertentangkan sektor energi dan pangan. Ruang harus dipandang sebagai medium yang mampu menampung dua kepentingan strategis sekaligus jika dirancang secara tepat.
Ia menjelaskan, konflik selama ini muncul karena pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih didominasi model ground-mounted konvensional. Model tersebut cenderung menggunakan lahan secara eksklusif sehingga berpotensi mengurangi fungsi pertanian.
Sebaliknya, dalam konsep agrovoltaic, panel surya dipasang dengan konfigurasi tertentu. Dengan demikian, aktivitas pertanian tetap dapat berlangsung di bawah atau di antara struktur panel.
“Dengan pendekatan ini, ruang tidak lagi dilihat secara kaku sebagai pilihan ini atau itu. Melainkan sebagai medium yang dapat menampung dua kepentingan strategis sekaligus selama dirancang dengan disiplin,” kata Andrie.
Meski menawarkan solusi, Andrie mengingatkan bahwa agrovoltaic bukan konsep yang bisa diterapkan tanpa perencanaan matang. Diperlukan pengaturan teknis seperti ketinggian panel, jarak antarbaris, hingga kesesuaian jenis tanaman.
“Bila fungsi pertanian menurun drastis atau hilang, maka itu bukan integrasi. Melainkan alih fungsi yang dibungkus istilah baru,” kata Andrie.
Ia pun mendorong pemerintah untuk segera merumuskan regulasi khusus terkait penggunaan ganda lahan sawah. Aturan tersebut penting untuk memastikan agrovoltaic tidak disalahgunakan dan tetap menjaga fungsi utama pertanian.
Selain itu, Andrie menekankan pentingnya keadilan bagi petani dalam skema ini. Petani harus menjadi pihak yang diuntungkan, baik dari sisi hasil pertanian maupun tambahan nilai ekonomi dari energi.
“Petani harus memperoleh manfaat nyata, kontrak yang adil. Kemudian, posisi tawar yang kuat dalam setiap proyek agrovoltaic,” ucapnya.
Sebagai penutup, ia menilai agrovoltaic merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi nasional. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pembangunan yang seimbang antara kebutuhan energi dan keberlanjutan sektor pertanian.
“Kita sedang membangun model pembangunan yang tidak bekerja dengan pertentangan. Tetapi, dengan keseimbangan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....