Neraca Perdagangan Indonesia Catat Surplus USD 0,95 Miliar

  • 04 Mar 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumumkan pencapaian positif neraca perdagangan Indonesia pada awal tahun 2026. Surplus perdagangan nasional pada Januari tercatat menyentuh angka sebesar USD 0,95 miliar secara konsisten.

Budi mengatakan capaian ini memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan tanpa terputus. Sektor nonmigas menjadi penopang utama dengan menyumbang surplus sebesar USD 3,23 miliar bagi negara.

“Surplus pada Januari 2026 memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus mencerminkan daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global,” ujar Budi di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Kinerja ekspor nasional pada Januari 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 3,39 persen dibandingkan periode sebelumnya. Total nilai pengiriman barang ke luar negeri tersebut mencapai angka fantastis USD 22,16 miliar.

Budi menjelaskan kenaikan harga komoditas timah dan nikel di pasar dunia mendongkrak pendapatan ekspor. Industri pengolahan masih mendominasi struktur ekspor Indonesia dengan kontribusi besar mencapai 83,53 persen.

Amerika Serikat menjadi mitra dagang yang menyumbangkan surplus terbesar bagi Indonesia senilai USD 1,55 miliar. India dan Filipina menyusul sebagai negara tujuan ekspor yang memberikan keuntungan perdagangan cukup signifikan.

Budi mengatakan harga timah di pasar internasional melonjak tajam hingga 67,29 persen. Komoditas lemak nabati serta nikel juga mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor yang sangat menggembirakan bagi pemerintah.

“Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya. Komoditas tersebut naik 191,38 persen secara tahunan,” kata Budi.

Sektor impor Indonesia pada awal tahun juga mengalami kenaikan sebesar 18,21 persen menjadi USD 21,20 miliar. Pertumbuhan impor barang modal yang mencapai 35,23 persen menunjukkan peningkatan aktivitas produksi manufaktur dalam negeri.

Budi menegaskan kenaikan impor seluruh golongan barang mencerminkan optimisme para pelaku industri pengolahan nasional. Indeks Manufaktur Indonesia naik menjadi 52,6 yang menandakan ekspansi sektor produksi berjalan sangat kuat.

“Hal ini sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index Manufaktur Indonesia dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026. Indeks Keyakinan Konsumen juga naik dari 123,5 menjadi 127,0,” ucap Budi.

Negara Tiongkok tetap menjadi mitra impor nonmigas terbesar Indonesia meskipun mencatatkan defisit sebesar USD 2,47 miliar. Pemerintah mencatat lonjakan impor kendaraan udara yang sangat tinggi mencapai angka 1.288,48 persen secara tahunan.

Budi menyatakan fondasi perdagangan nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat kokoh dan stabil. Kepercayaan konsumen domestik terus meningkat seiring dengan terjaganya stabilitas ekonomi makro pada awal tahun 2026.

“Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Januari 2026 menunjukkan fondasi yang kuat di awal tahun. Kondisi ini ditopang oleh konsistensi surplus neraca perdagangan, penguatan ekspor industri pengolahan,” ujar Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....