Bakom Nilai ART Berpeluang Dorong Investasi AS hingga 60 Miliar Dolar AS
- 26 Feb 2026 10:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menyampaikan potensi investasi Amerika Serikat ke Indonesia pascaperjanjian Agreement on Reciprocal Tariff (ART). Tim Pakar Bakom RI, Fithra Faisal Hastiadi, memperkirakan nilai investasi dapat mencapai 60 miliar dolar AS.
Menurut Fithra, peluang tersebut muncul dari relokasi industri akibat kebijakan tarif tinggi AS. Menurutnya, perusahaan asal AS hingga Jepang berpotensi memindahkan basis produksi ke Indonesia.
"Nah, hitung-hitungan saya potensi investasi itu dari perpindahan itu bisa sampai 30 miliar US Dollar. Jadi 38 miliar US Dollar dari komitmen investasi awal, tambah 30 miliar US Dollar, kita bisa sampai 60 miliar US Dollar," ujar Fithra di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menilai realisasi investasi sangat bergantung pada kesiapan Indonesia menarik peluang tersebut. Karena itu, diperlukan reformasi struktural agar daya saing nasional semakin kuat.
"Cuma memang ini adalah tergantung kitanya, bisa nangkap atau nggak, makanya penting juga untuk melakukan structural reform. Presiden beberapa kali menyampaikan mengenai Rule of Law, Control of Corruption, Regulatory Quality, yang mana merupakan indikator dari World Governance Indicator," ujarnya.
Selain potensi relokasi, terdapat pula komitmen investasi langsung dari AS di sejumlah sektor strategis. Hal ini dinilai menjadi indikator penting keberhasilan kerja sama dagang kedua negara.
"Sehari sebelumnya Presiden itu kan menandatangani komitmen investasi di US-ASEAN Business Council itu 38,4 miliar US Dollar. Itu juga menjadi bagian dari satu ekosistem itu," ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, memastikan kebijakan tarif impor AS tidak mengganggu kinerja ekspor nasional. Menurutnya, kondisi neraca perdagangan Indonesia saat ini tetap berada pada posisi yang sangat kuat.
Bahkan, posisi perdagangan Indonesia terhadap AS tercatat masih mengalami surplus hingga awal tahun ini. Karena itu, Mendag merasa optimistis angka ekspor produk unggulan nasional justru berpeluang tumbuh lebih besar dari periode sebelumnya.
“Sekarang saja kita surplus, paling besar terhadap AS dan India, sehingga tidak ada masalah. Banyak produk ekspor Indonesia yang mendapatkan fasilitas tarif nol persen sesuai butir kesepakatan dalam perjanjian perdagangan kedua negara,” ujarnya di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026.
Budi menekankan hubungan dagang resiprokal ini akan memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua pihak. Ia menyebut pemerintah akan terus meningkatkan volume pengiriman barang guna memperkuat cadangan devisa negara melalui jalur perdagangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....