Menekraf Dorong Ekonomi Kreatif Perkuat Daya Saing ASEAN
- 18 Jun 2026 17:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya ekonomi kreatif bagi daya saing Asia Tenggara
- Ekonomi kreatif memiliki peran dalam menjaga otonomi strategis ASEAN di tengah persaingan global
- Indonesia menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional
- Sektor ekonomi kreatif mendorong penciptaan lapangan kerja, kewirausahaan, dan inovasi
- Pertumbuhan PDB ekonomi kreatif Indonesia mencapai 6,86 persen pada 2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan, ekonomi kreatif penting dalam menjaga otonomi strategis Asia Tenggara. Menurutnya, sektor ini dapat mendukung otonomi strategis di tengah dinamika global.
"Tantangan negara Asia termasuk Indonesia kini adalah menjaga daya saing, di tengah ekosistem global yang berbasis inovasi, teknologi, dan talenta. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, untuk mendorong lapangan kerja, kewirausahaan, inovasi, sekaligus diplomasi budaya." kata Menteri Ekraf dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia mengatakan, sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan performa kuat pada 2025, dengan pertumbuhan PDB ekonomi kreatif mencapai 6,86 persen. Angka itu bahkan mencapai 1,75 poin lebih tinggi, dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kinerja tersebut ditopang nilai ekspor ekonomi kreatif sebesar USD31,94 miliar dan realisasi investasi mencapai Rp183 triliun. Sektor ekonomi kreatif juga menyerap lebih dari 27 juta tenaga kerja, dengan mayoritas kalangan generasi muda produktif.
Menurutnya, kekayaan intelektual merupakan aset ekonomi yang strategis, karena mampu menciptakan nilai tambah dalam jangka panjang. "Dalam hal ini menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat daya saing," ucapnya.
"Kita dapat berkontribusi pada fondasi yang lebih luas untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang terhubung, terintegrasi, dan inovatif di seluruh Asia Tenggara. Terlebih denganmemperkuat kerja sama regional, kemitraan lintas batas, serta dukungan bagi para pencipta dan inovator," ujarnya.
Sementara itu, Overall Lead and Editor-in-Chief Tech in Asia, Terence Lee, menilai kolaborasi regional semakin penting. Menurutnya, koordinasi kawasan diperlukan menghadapi tantangan global yang berkembang.
"Mulai dari ketahanan ekonomi dan pengembangan infrastruktur AI. Bahkan, aliran modal dan kolaborasi regional di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut," ujar Terence Lee
Asia Economic Summit 2026 merupakan forum tingkat tinggi tertutup, dihadiri 250 pemimpin pemerintahan, CEO, investor, dan pembuat kebijakan. Mereka berupaya menghasilkan kolaborasi nyata sektor publik dan swasta.
Menteri Ekraf juga mengundang seluruh delegasi AES 2026, hadir ke ajang World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, acara itu akan digelar pada 21-23 Oktober 2026.
Mengangkat isu krusial seperti platform digital, AI, dan IP, WCCE 2026 menjadi kelanjutan penting dari pembahasan AES 2026. Utamanya dalam merumuskan agenda global serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....