Anggota DPR Ingatkan Rekam Jejak Indonesia dalam Produksi Kendaraan Niaga
- 26 Feb 2026 08:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi VII DPR, Kaisar Abu Hanifah, mengungkapkan Indonesia pernah memiliki rekam jejak panjang dalam produksi kendaraan niaga. Mulai dari tahap penciptaan desain kendaraan yang melegenda hingga produksi unit terbaru.
Politisi PKB ini menilai penggunaan produk dalam negeri pada industri otomotif tidak sebatas masalah teknis. Menurut dia, ini merupakan bentuk keberpihakan kepada lapangan kerja dan penguatan industri komponen lokal sesuai kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Jika pemerintah memilih mobil pick-up produksi dalam negeri, ini akan membuka lapangan kerja,” ujarnya, Kamis 26 Februari 2026. “Selain mengurangi pengangguran, ini juga mendukung kebijakan penguatan industri nasional.”
Menurut Kaisar, pemanfaatan unit lokal nantinya bakal memudahkan layanan purnajual kendaraan. Ini sekaligus mendukung ketersediaan suku cadang bagi kegiatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di daerah.
Karena itu, Kaisar mengatakan Komisi VII DPR akan mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan pelaku industri otomotif nasional. Menurut dia, ini semestinya dilakukan sebelum merealisasikan impor mobil pick-up 4x4 dalam skala besar dari India.
Kaisar mengingatkan, pengadaan senilai puluhan triliun rupiah seharusnya diprioritaskan untuk menggerakkan roda ekonomi domestik. Dibandingkan harus memperkuat neraca perdagangan negara lain.
“Kami tidak menolak modernisasi operasional Kopdes, tetapi kebijakan strategis seperti ini harus mempertimbangkan kepentingan industri nasional,” ucapnya. “Selama industri otomotif Indonesia mampu memproduksi, maka impor sebaiknya menjadi opsi terakhir.”
Pernyataan Kaisar ini terkait pengadaan kendaraan untuk Kopdes Merah Putih oleh PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero). BUMN menandatangani kontrak senilai Rp24,66 triliun dengan dua produsen otomotif India untuk pengadaan 105.000 unit kendaraan niaga.
Sebanyak 35 ribu unit Scorpio Pick-Up akan dipasok Mahindra & Mahindra. Sedangkan Tata Motors akan memasok 35 ribu unit Yodha Pick-Up dan 35 ribu unit Ultra T.7 Light Truck.
Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, mengatakan pengiriman kendaraan-kendaraan tersebut dilakukan secara bertahap. "Sebanyak 200 unit mobil pick-up dari Mahindra sudah tiba di Indonesia,” ujarnya.
Sedangkan hingga akhir Februari 2026, Joao menargetkan 1.000 unit kendaraan produksi Mahindra sudah masuk ke sini. “Tahun ini kami usahakan bisa sampai semua, baik dari Mahindra maupun Tata,” ujarnya.
Joao mengungkapkan pembelian kendaraan dari India disebabkan faktor harga dan kemampuan memasok dalam jumlah besar. Menurut dia, harga pick-up 4x4 di pasaran Indonesia relatif mahal sedangkan harga yang ditawarkan produsen India lebih kompetitif.
"Dengan mengambil kendaraan dari India, kami dapat menggunakan anggaran dari APBN secara bijak,” ujarnya. “Ini karena kami membeli dengan harga yang hampir setengahnya lebih murah dibandingkan produk-produk yang ada di pasaran Indonesia.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....