Komisi XII DPR Apresiasi Hilirisasi Tembaga MIND ID dan Freeport di Gresik

  • 15 Jul 2026 08:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi XII DPR RI mengapresiasi langkah MIND ID dan PT Freeport Indonesia dalam memperkuat hilirisasi tembaga melalui pembangunan smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik.
  • Investasi hilirisasi dinilai meningkatkan nilai tambah mineral, memperkuat industri pengolahan nasional, dan berpotensi mendorong penerimaan negara lebih dari Rp120 triliun per tahun saat produksi kembali normal.
  • Smelter Gresik memiliki kapasitas 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Bersama ekspansi PT Smelting, total kapasitas pengolahan Freeport di dalam negeri mencapai sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi XII DPR RI mengapresiasi langkah Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam memperkuat hilirisasi tembaga nasional. Langkah tersebut ditempuh dengan membangun smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur.

Apresiasi tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI bersama PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional, Selasa 14 Juli 2026. Investasi pembangunan fasilitas hilirisasi dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri sekaligus memperkuat industri pengolahan nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI Arif Riyanto Uopdana mengatakan pembangunan smelter dan keberlanjutan investasi Freeport menjadi terobosan penting bagi industri pertambangan Indonesia. Menurutnya, kesepakatan investasi lanjutan serta perpanjangan izin usaha sesuai usia cadangan menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pengelolaan sumber daya mineral jangka panjang.

"Saya apresiasi karena telah terjadi kesepakatan investasi kembali sebesar 12 persen bersama pemerintah Indonesia. Ini menjadi terobosan baru terkait keberlanjutan usaha PT Freeport Indonesia," ujar Arif dalam rapat tersebut.

Ia juga menilai Freeport konsisten menjalankan program sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Khususnya, di Kabupaten Mimika dan wilayah Papua secara umum.

Apresiasi serupa disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI Alfons Manibui. Ia menilai kontribusi Freeport selama ini tidak hanya dirasakan negara melalui penerimaan, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

"Kami berterima kasih kepada PT Freeport atas kinerjanya yang terus memberikan manfaat bagi negara, pemerintah daerah, dan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan," kata Alfons.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan bahwa smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik merupakan bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional yang dijalankan bersama MIND ID. Smelter tersebut memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.

Ditambah ekspansi kapasitas PT Smelting sebesar 300 ribu ton, total tambahan kapasitas pengolahan mencapai 2 juta ton konsentrat. Dengan kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebelumnya sebesar 1 juta ton, total kapasitas pemurnian konsentrat tembaga Freeport di dalam negeri mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.

Tony mengatakan kehadiran smelter dan Precious Metal Refinery memungkinkan seluruh rantai pengolahan tembaga dilakukan di dalam negeri. Mulai dari konsentrat hingga logam mulia seperti emas dan perak.

Selain menghasilkan sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun bersama PT Smelting, fasilitas PMR juga memproduksi sekitar 50 ton emas, 200 ton perak. Serta, sejumlah logam bernilai tinggi lainnya, termasuk platinum dan paladium.

Menurut Tony, fasilitas hilirisasi tersebut diproyeksikan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Saat operasional tambang kembali normal, penerimaan negara diperkirakan dapat melampaui Rp120 triliun per tahun.

Ia juga menjelaskan operasional smelter sempat terdampak kebakaran pada fasilitas Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024. Setelah perbaikan selesai pada Mei 2025, operasional kembali menghadapi kendala akibat longsoran di Grasberg Block Cave yang mengganggu pasokan konsentrat. Namun, perusahaan terus melakukan pemulihan agar kegiatan produksi dapat kembali berjalan optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....