PHE ONWJ Amankan Dua Situasi Krusial dalam Sepekan
- 09 Feb 2026 19:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pihak PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) berhasil mengamankan dua situasi krusial. Peristiwa penanganan risiko di laut lepas tersebut terjadi secara berturut-turut dalam kurun waktu satu minggu.
Perusahaan ini memitigasi risiko hanyutnya tongkang raksasa yang bergerak mendekati anjungan migas vital milik negara. Tim lapangan juga bergerak cepat membantu evakuasi kapal patroli pemerintah yang mengalami kendala mesin mendadak.
Situasi darurat pertama terjadi pada malam hari, tepatnya pada hari Kamis, 22 Januari 2026. Tongkang Karunia Samudera 1 mengalami mati mesin total serta kehabisan bahan bakar saat ditarik kapal.
Tongkang tersebut terbawa arus laut kencang hingga memasuki zona terbatas fasilitas operasi minyak dan gas. Jaraknya hanya sekitar 80 meter dari Anjungan Lepas Pantai EH yang tengah berproduksi secara aktif.
"Bekerja di laut mengajarkan kami untuk selalu waspada terhadap perubahan kondisi sekecil apa pun. Malam itu, saat radar mendeteksi pergerakan tongkang yang mendekati area produksi karena terbawa arus, prioritas kami adalah memastikan koeksistensi yang aman antara fasilitas negara dan lalu lintas laut. Kami harus bertindak presisi agar kedua aset ini tetap utuh," ujar General Manager PHE ONWJ Muzwir Wiratama dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 1 Februari 2026.
Tim mengarahkan TB Sejahtera untuk segera melakukan pendampingan jalur terhadap tongkang yang hanyut karena arus. Langkah taktis ini diambil agar tongkang besar tersebut tidak menyentuh fasilitas produksi di tengah laut.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga amanah konstitusi dan visi kemandirian energi yang dicanangkan Pemerintah. Kami memastikan aktivitas hulu migas berjalan selaras dengan lingkungan sekitarnya. Jika terjadi insiden, dampaknya bukan hanya pada produksi, tapi juga ekosistem laut yang harus kita jaga bersama," ucap Wira.
Kesiapan tim kembali teruji saat insiden kedua terjadi pada hari Jumat, 30 Januari 2026. Kapal milik Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Jakarta bernama KM Celurit 203 mengalami kendala.
Kapal patroli yang membawa 15 personel tersebut mengalami mati mesin total pada waktu dini hari. Kapal kehilangan daya dorong saat berada di antara dua anjungan minyak lepas pantai milik perusahaan.
TB Sejahtera dan MV Grosbeak segera merapat ke lokasi kejadian untuk memberikan bantuan teknis darurat. Proses evakuasi dilakukan dengan menarik kapal tersebut menuju lokasi yang lebih aman di pelabuhan terdekat.
"Ketika kami menerima sinyal dari KM Celurit 203, kami melihatnya sebagai panggilan tugas untuk saling menopang. Mereka adalah mitra strategis kami dalam mengelola energi dari perut bumi. Sementara, mereka memastikan keamanan dan ketertiban di permukaan laut. Membantu adalah bagian dari etika kemanusiaan dan profesionalisme yang kami junjung tinggi," kata Wira.
Penarikan kapal menuju Pelabuhan Patimban berjalan lancar berkat koordinasi solid antara kedua pihak yang terlibat. Seluruh awak kapal pemerintah tersebut akhirnya berhasil diselamatkan tanpa ada korban jiwa yang timbul.
"Syukur alhamdulillah, seluruh 15 personel KPLP dalam kondisi sehat dan selamat dan berhasil sandar dengan aman," ujar Kapten KM Celurit 203.
Dua peristiwa dalam satu pekan ini menjadi catatan penting bagi manajemen operasional perusahaan hulu migas. Kemampuan adaptasi lingkungan menjadi kompetensi mutlak yang harus dimiliki oleh perusahaan energi masa kini.
"Kami terus berupaya menyelaraskan operasi kami dengan kondisi alam, memastikan keselamatan setiap jiwa di perairan ini, dan menjaga agar energi untuk negeri tetap mengalir tanpa henti," ucap Wira.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....