Gusde Sidharta: Okupansi Hotel di Sanur Tembus 90 Persen

  • 18 Agt 2026 08:21 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Sanur – Sanur selama ini menjadi destinasi wisata yang tidak pernah ditinggalkan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Bahkan wisatawan dari berbagai negara tercatat menjadi “repeater guest”bagi destinasi yang berada di kawasan Denpasar Selatan itu.

Tren itu membuat Sanur tidak pernah sepi kunjungan wisatawan tiap tahunnya. Bahkan Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gede Sidharta Putra menyampaikan, okupansi di Sanur pada Agustus 2026 ini mencapai 85 hingga 90 persen.

“Mungkin sekitar 85 sampai 90% ya kita di Agustus ini. Bagus, sangat bagus sekali ya mudah-mudahan tetap lancar seperti ini,” katanya kepada wartawan di Sanur, Senin 17 Agustus 2026.

Ia pun melihat kondisi tersebut sebagai momentum positif bagi Sanur untuk terus mempertahankan pertumbuhan pariwisata. Kondisi itu tentunya tanpa meninggalkan kekuatan masyarakat lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas kawasan tersebut.

Ia menyebut, kondisi pariwisata Sanur dan Denpasar secara umum tahun ini terbilang sangat baik. Pasar Australia dan Eropa masih menjadi salah satu penopang utama kunjungan wisatawan ke Sanur.

“Kita performa sangat baik tahun ini dengan market Australia dan Eropa ya jadi pasar kita. Mudah-mudahan tidak ada lagi perang, mudah-mudahan tidak mengganggu banyak harga-harga di ticketing begitu ya dan perjalanan-perjalanan dinas mulai,” ujar pengusaha yang akrab disapa Gusde itu.

Menurut Gusde, capaian tersebut perlu dijaga melalui promosi yang konsisten. Terlebih, Sanur saat ini telah mengalami berbagai pembenahan yang dinilai perlu terus dikomunikasikan kepada wisatawan maupun pasar pariwisata internasional.

“Nah harapan kami itu satu, supaya tetap ada promosi ya walaupun kita sedang ramai, promosi harus ada, apalagi Sanur ini kan sudah berbenah. Berbenah di jalan, sudah ada parkir,” katanya.

“Ini kan perlu disampaikan ke market, perlu disampaikan ke calon-calon wisman, kepada partner-partner travel agent atau tour operator,” imbuhnya.

Ia menyebut promosi dapat dilakukan melalui berbagai strategi, mulai dari branding, advertising hingga sales mission. Di sisi lain, Gusde juga mendorong agar berbagai kegiatan masyarakat Sanur dikemas sehingga mampu menjadi bagian dari daya tarik wisata.

“Tantangan kita bagaimana 17-an ini kita bisa kemas nanti dengan entertainment-entertainment, budaya-budaya gitu ya sehingga ini juga bisa menjadi tontonan wisatawan,” ujarnya.

Gusde berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat terus memperkuat kolaborasi untuk menjaga momentum positif pariwisata Sanur. “Kita berharap baik pemerintah semua itu ya tetap berkolaborasi dengan baik seperti itu,” katanya.

Ia pun mengatakan perkembangan Sanur saat ini merupakan hasil dari kemampuan masyarakat menjaga karakter dan kehidupan lokal di tengah pertumbuhan pariwisata. Menurutnya, Sanur yang dahulu merupakan kawasan sederhana dengan kehidupan masyarakat yang bertumpu pada sektor nelayan dan pertanian, kini telah berkembang menjadi destinasi premium.

“Secara umum kita bersyukur bahwa Sanur dari sebuah desa yang sangat sederhana begitu ya, hidup dari nelayan, hidup dari petani tapi dua kultur ini memberikan kita kekayaan justru,” katanya.

Ia menilai kekuatan komunitas menjadi salah satu modal penting dalam perkembangan Sanur. Kehidupan masyarakat, tokoh-tokoh lokal, puri, griya hingga kelembagaan disebut tetap berjalan beriringan dengan perkembangan pariwisata.

Menurut Gusde, konsep pengembangan Sanur juga tetap diarahkan pada karakter kawasan sebagai destinasi hijau dan wellness. Ia menilai geliat pariwisata seharusnya tidak menghilangkan kehidupan masyarakat lokal, tetapi justru memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Karena 80-58% pengusaha di Sanur itu masih orang Sanur itu sendiri,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....