Pariwisata Regeneratif, Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

  • 16 Agt 2026 10:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bali membutuhkan pendekatan baru dalam mengembangkan pariwisata agar pertumbuhan kunjungan tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat masyarakat, menjaga budaya, dan memulihkan lingkungan. Konsep pariwisata regeneratif dinilai menjadi salah satu jalan untuk memastikan destinasi tetap menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus mampu menghadapi tekanan pariwisata.

Doktor Pariwisata Universitas Udayana yang juga selaku Pengurus PHRI dan Pengamat Ekonomi Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA. menjelaskan pariwisata regeneratif memiliki cakupan lebih jauh dibandingkan pariwisata berkelanjutan. Jika pariwisata berkelanjutan berupaya mencegah kerusakan, pendekatan regeneratif mendorong pariwisata untuk ikut memulihkan, memperkuat, dan meningkatkan kualitas destinasi.

Menurutnya, Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli menjadi salah satu contoh bagaimana pariwisata dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan adat. Namun, meningkatnya popularitas dan kunjungan juga menghadirkan tantangan berupa tekanan terhadap pengelolaan sampah, hutan bambu, jalur kunjungan, ruang desa, serta kebutuhan untuk memastikan masyarakat tetap menjadi pemilik utama arah pembangunan.

Trisno menekankan keterlibatan masyarakat menjadi kunci pengembangan desa wisata. Pemahaman masyarakat mengenai manfaat, risiko, dan tanggung jawab pariwisata dapat mendorong keterlibatan yang lebih kuat, termasuk memperkuat ekonomi lokal, UMKM, dan peran generasi muda.

Namun, keterlibatan tersebut perlu disertai sistem pemulihan lingkungan yang jelas, terukur, dan konsisten. Ia merumuskan Model REGENESIS atau Model 6M sebagai kerangka pariwisata regeneratif, yakni Memulihkan, Menjaga daya dukung tempat, Memberi manfaat lebih besar, Menguatkan budaya dan masyarakat, Menyatukan para pihak, serta Membangun sistem yang terus belajar.

Pendekatan ini menempatkan daya dukung lingkungan, pemerataan manfaat ekonomi, penguatan budaya, kolaborasi, serta evaluasi berbasis data sebagai bagian penting dalam pengelolaan destinasi. Pendekatan tersebut tidak hanya berlaku untuk Penglipuran.

Desa pesisir dapat menerapkannya melalui pengurangan sampah laut, penguatan nelayan, dan pemulihan ekosistem. Sementara desa pertanian dapat diarahkan untuk menjaga sawah, air, benih lokal, dan kehidupan petani, sedangkan desa budaya dapat memperkuat adat, arsitektur, ritual, seni, dan keterlibatan generasi muda.

Bagi Bali, pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah kunjungan atau transaksi ekonomi. Masa depan pariwisata perlu dilihat dari semakin kuatnya desa adat, pulihnya lingkungan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat lokal, serta terjaganya budaya dan kualitas kehidupan masyarakat. Bali, menurut Trisno, tidak cukup hanya lestari, tetapi harus mampu beregenerasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....