Penglipuran Festival 2026 Usung Pariwisata Inklusif dan Berkelanjutan
- 23 Jun 2026 11:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, akan menggelar Penglipuran Village Festival XIII pada 9–11 Juli 2026. Festival tahunan ini mengusung tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif" dengan menghadirkan parade seni budaya, pameran UMKM, festival kuliner, workshop lingkungan, serta melibatkan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis kolaborasi.
Ketua Badan Usaha Desa Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, kepada RRI di Denpasar, Senin 22 Juni 2026, mengatakan festival tahun ini mengedepankan konsep inklusif dengan melibatkan komunitas, seniman, pemerintah, hingga penyandang disabilitas. Menurutnya, keterlibatan penyandang disabilitas menjadi salah satu pembeda dibandingkan penyelenggaraan festival pada tahun-tahun sebelumnya.
"Pada festival tahun ini kami memberikan ruang yang lebih besar kepada saudara-saudara penyandang disabilitas. Mereka akan terlibat dalam pementasan pada pembukaan sebagai wujud pariwisata yang inklusif, sekaligus mengajak seluruh komponen masyarakat berkolaborasi menyukseskan festival," ujarnya saat konferensi pers.
Sumiarsa menambahkan, konsep keberlanjutan festival mencakup aspek sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan. Rangkaian kegiatan diawali dengan pertunjukan budaya, dilanjutkan workshop lingkungan yang melibatkan wisatawan, kemudian ditutup dengan kegiatan yoga sebagai bagian dari promosi kesehatan.
"Kami ingin menghadirkan festival yang lebih berkualitas dan bermanfaat. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga belajar, berpartisipasi, membeli produk lokal, dan ikut memberikan manfaat bagi perkembangan Desa Wisata Penglipuran," jelas Wayan Sumiarsa.
Tiga Hari Perayaan Harmoni Bhumi Penglipuran pada hari pertama, Kamis, 9 Juli 2026, festival akan dibuka dengan nuansa budaya yang kuat melalui penyambutan tamu undangan, tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, pembukaan resmi festival, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, peninjauan stand pameran, penilaian lomba gebogan, penilaian lomba penjor, serta seni pertunjukan. Pada hari kedua, Jumat, 10 Juli 2026, festival akan menghadirkan workshop lingkungan, lomba busana tempoe doloe, serta musik lokal. Hari kedua ini menjadi ruang edukasi, kreativitas, ekspresi budaya, dan pelibatan generasi muda.
Pada hari ketiga, Sabtu, 11 Juli 2026, festival menghadirkan Yoga Tertawa dan musik lokal sebagai simbol kegembiraan, kesehatan, kebersamaan, dan energi positif masyarakat Penglipuran. Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini juga menjadi ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM, seniman lokal, generasi muda, krama desa, warga penyandang disabilitas, serta wisatawan yang ingin merasakan langsung kehidupan Desa Adat Penglipuran.
Melalui Penglipuran Village Festival XIII, Desa Wisata Penglipuran berharap dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata budaya unggulan sekaligus mendorong terwujudnya pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif di Bali. Festival ini juga diharapkan memberi dampak positif bagi pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
| Baca juga: Ratusan Pelaku Industri Gabung BaliCEB |
Penglipuran 2026: Menjaga Kualitas, Bukan Sekadar Mengejar Jumlah
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Desa Wisata Penglipuran mencatat kunjungan sebanyak 308.444 wisatawan. Secara jumlah, kunjungan tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 dan 2025. Namun, kondisi ini menjadi momentum bagi Penglipuran untuk memperkuat kualitas pengelolaan, menjaga daya dukung desa, meningkatkan kenyamanan pengunjung, serta memastikan manfaat pariwisata semakin dirasakan oleh krama.
Saat ini, rata-rata kunjungan berada di kisaran 2.000 sampai 2.500 wisatawan per hari, yang masih sesuai dengan daya dukung Desa Wisata Penglipuran. Wisatawan Nusantara masih mendominasi kunjungan, menunjukkan bahwa Penglipuran tetap menjadi destinasi budaya yang dicintai masyarakat Indonesia.
Sepanjang tahun 2026, Penglipuran juga memperkuat sejumlah program perbaikan, antara lain pengelolaan sampah, perbaikan jogging track, perbaikan rumah-rumah adat, subsidi perbaikan rumah adat, insentif hari raya bagi krama, pembangunan relief sejarah Desa Penglipuran, serta perbaikan tata kelola melalui pembentukan badan usaha desa adat. Seluruh program tersebut diarahkan untuk mewujudkan Sapta Misi Desa Adat Penglipuran menuju desa wisata regeneratif, yaitu menguatkan krama, menjaga alam, meneguhkan adat dan spiritualitas, membangun ekonomi desa, menjaga tata ruang dan identitas, mengembangkan UMKM serta produk lokal, dan mewujudkan tata kelola yang terpercaya serta berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....