Kenali Lebih Dekat Hutan Alas Pala Sangeh dan Penghuninya

  • 17 Mar 2026 09:46 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar : Staff Sangeh Monkey Forest I Kadek Surya Pranata mengatakan Objek wisata Sangeh Mongkey Forest ini mulai dikelola dengan serius sejak tahun 2000-an, tetapi untuk kunjungan wisatawan yang datang berkunjung ke tempat ini sudah sejak tahun 1990-an. Pada saat itu wisatawan mancanegara datang ke sini hanya dibantu oleh warga lokal untuk mengetahui apa saja yang ada di sini. Jadi Sangeh Mongkey Forest ini secara resminya dikelolanya di tahun 2000-an dan dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Badung.

“ Kalau sekarang Staff di Sangeh Mongkey Forest ada 20 orang. Selain itu ada juga pekerja lepas staff foto. Staff foto ini kurang lebih ada 30 orang. Mereka mencari nafkah dari berjualan foto. Kemudian di sini ada juga yang berjualan aksesoris, baju dan lain-lainnya”, ujar Surya Pranata ketika ditemui oleh RRI Denpasar di Sangeh Mongkey Forest beberapa waktu lalu.

Untuk Sejarah Sangeh Mongkey Forest menurut orang tua zaman dulu, Sangeh ini ada karena pada saat itu warga setempat melihat sebuah pohon atau hutan berjalan dari Gunung Agung menuju ke Kerajaan Mengwi. "Sebelum sampai di sana dilihatlah oleh warga lokal di sini. Sehingga pohon itu berhenti di sini dan tidak berjalan-jalan lagi. Nah dari situlah diambil nama Sangehnya. Kata Sangeh sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu dari kata sang dan ngeh. Jadi saat orang melihat pohon berjalan itu diambilah kata sangeh," jelas Surya Pranata .

Lebih lanjut Surya Pranata menambahkan pohon berjalan inilah yang sekarang terkenal dengan nama hutan Alas Pala. Luas hutan homogen atau hutan Alas Pala Sangeh ini luasnya 14 hektar. Namun, secara total luas hutan di sini sekitar 16 hektar dan ada 1 hektar lebih merupakan hutan buatan. Hutan pala ini tidak ada di tempat lain, cuma ada di Sangeh. Kalau tanaman jenis lain juga banyak ada di sini, tetapi tidak sebanyak pohon Pala. Contohnya Pohon Pule, Pohon Beringin dan Pohon Jempinis.

Selain hutan Pala di Sangeh ini juga dihuni satwa berupa Monyet. Populasi monyet di Sangeh saat ini kurang lebih 700 ekor. Populasi monyet ini terus bertambah. Dulunya hanya sekitar 500-an ekor. Jika dalam 1 kelompok itu banyak, biasanya mereka akan memecah lagi menjadi beberapa kelompok dan mereka akan menyebar ke tempat lain. Contohnya di sebelah barat hutan ini ada Sungai dan mereka banyak juga berada di sana. Ini terjadi karena perpecahan dari sebuah kelompok tadi. 1 kelompok itu biasanya jumlah monyetnya kurang lebih dari 150 sampai 200 ekor. Setiap kelompok pasti ada 1 yang menjadi ketua atau Rajanya.

“Monyet di sini dikatakan keramat. Ini dikarenakan mereka tinggal di hutan yang kita keramatkan. Maka mereka juga termasuk satwa yang kita keramatkan. Di Bali kan ada kepercayaan umat Hindu terhadap Hanoman. Hanoman ini kan dewa dari umat Hindu. Jadi kita tiidak boleh menyakiti monyetnya,” ungkap Surya Pranata.

Sangeh ini disebut konservasi tertua di Bali. Hal ini disebabkan karena hutan ini adalah hutan yang jarang atau susah untuk dikembangkan. "Jadi pemerintah membuat konservasi untuk melindungi hutan dan segala isinya," tutup Surya Pranata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....