Sanur Village Festival Kembali Digelar, Cek Tanggalnya

  • 05 Nov 2025 09:54 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Sanur : Sanur Village Festival (SVF) kembali hadir pada 7-9 November 2025. SVF kali ini mengambil lokasi di Muntig Siokan, Pantai Mertasari Sanur.

Gelaran ke-18 ini mengangkat tema "Guna Dusun”. Tema ini dianggap memiliki makna mendalam tentang pengabdian diri dan pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.

Festival ini dirancang untuk memadukan keindahan budaya Bali dengan semangat kebersamaan melalui musik, kuliner, seni, budaya, dangaya hidup berkelanjutan. Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), Ida Bagus Gede Sidharta Putra, berharap festival tahunan yang menjadi ikon kawasan pesisir Kota Denpasar ini mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus memperkenalkan berbagai potensi Sanur.

“Tujuan festival ini agar orang datang menikmati Sanur Festival sekaligus mengenal destinasi lain di sekitarnya,” ujarnya saat Pres Conference di Santrian Art Gallery, Hotel Griya Santrian Sanur, Senin (3/11/2025).

Tahun ini, Sanur Festival mengangkat tema “Guna Dusun”, terinspirasi dari karya sastra geguritan Selampah Laku ciptaan tokoh spiritual Sanur, Ida Pedanda Gede Made Sidemen. “Guna Dusun bagi kami, ini sebuah penghargaan luar biasa. Guna Dusun bukan sekadar istilah, tetapi filosofi hidup bagaimana seseorang memelihara diri dengan ilmu agar berguna bagi orang lain,” ujar Ketua Yayasan Pembangunan Sanur ini.

Ia menjelaskan, istilah ini berakar dari ajaran tokoh yang diangkat dalam festival ini, yang dalam otobiografi Ida Pedanda Made Sidemen menulis bahwa dirinya tak memiliki karang sawah, melainkan karang awak—diri sendiri—yang harus dipelihara dengan pengetahuan dan keutamaan hidup. “Artinya, beliau mengisi dirinya dengan ilmu agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Idep beline mangkin makinkin mayasa

lacur Tong ngelah karang sawah Karang awake tandurin Guna dusun Ne kanggo ring desa-desa yang mempunyai makna dalam kesederhanaan, sehingga untuk melanjutkan kehidupan maka timbul filosofi menanam pada karang awak, yakni tidak lain adalah dengan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan dalam diri ini maka akan menumbuhkan gunadusun, yang berarti berguna bagi seseorang.

Lebih jauh, nilai tersebut selaras dengan pesan yang relevan di era modern. Dengan kemajuan teknologi, banyak hal dapat dilakukan untuk berbagi ilmu dan memberi manfaat.

“Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi harus dibagikan agar membawa manfaat bagi orang lain,” imbuhnya.

Gusde Sidharta berharap, pengangkatan tema Guna Dusun dalam Sanur Festival ke 18 tahun ini dapat menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya dan menjaga keseimbangan antara adat, budaya, dan pariwisata. “Semoga nilai-nilai ini bisa memberi manfaat dan kemakmuran bagi masyarakat Sanur dan Bali pada umumnya,” ungkapnya.

“Ini tentang bagaimana kita bisa memberi sumbangsih terhadap daerah kita sendiri, tempat kita mencari kehidupan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pariwisata harus memberikan guna bagi Sanur,” lanjutnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang berlangsung lima hari, Sanur Village Festival ke- 18 tahun 2025 ini hanya digelar selama tiga hari, terpusat di Muntig Siokan, Pantai Mertasari. Meski lebih singkat, rangkaian acara tetap beragam dan sarat makna.

SVF 2025 menghadirkan berbagai kegiatan, seperti festival kuliner, lomba ngelawar dengan tema laut Sanur, lomba barista, fruit carving, dan yang tidak kalah menariknya SVF 2025 ini ada Sanfest Sandikala Run. Sementara pertunjukan musik, dan seni budaya akan ada penampilan dari musisi lokal dan nasional, termasuk , Navicula dan Sandrina Malakian, Gugun Blues Shelter, Pongki Barata feat Fatur hingga Yovie&Nuno

“Kami juga menjajaki olahraga yang sedang populer seperti padel, serta menghadirkan seni instalasi dan lomba fotografi,” jelasnya.

”Kami menyadari untuk menjadi ajang tahunan yang dinanti masyarakat maupun wisatawan mancanegara diperlukan sebuah kreativitas dan inovasi yang selalu berkembang dan tidak boleh stagnan,” sambungnya.

Sidharta menambahkan, Sanur Village Festival ke 18 bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga wadah kreatif dan refleksi nilai-nilai sosial, budaya, serta lingkungan. “Festival ini ruang kreatif bagi warga Sanur, juga gerakan komunitas yang peduli pada keberlanjutan. Nilai-nilai luhur budaya, sosial, dan lingkungan tetap kami jaga agar pariwisata Sanur berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap penyelenggaraan tahun ini kembali menegaskan peran Sanur sebagai destinasi aman, kreatif, dan inspiratif. “Sejak awal, Sanur Festival telah menjadi simbol bahwa Sanur tetap hidup, aman, dan terbuka bagi siapa pun untuk berkarya,” tuturnya

Ajang musik Bali Rockin Blues Festival kembali digelar dengan mengusung semangat kolaborasi dan idealisme untuk memperkuat eksistensi musisi lokal Bali. Tahun ini, festival yang dikenal sebagai wadah pertemuan komunitas musik lintas genre itu hadir dengan konsep festival terbuka dan tetap mempertahankan akar musik rock dan blues.

Koordinator event dan musik SVF 2025 I Gusti Agung Bagus Mantra mengatakan Bali Rockin Blues sejak awal festival ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi musisi-musisi lokal untuk tampil dan berkembang secara profesional. “Rockin blues itu adalah dasar dari semua aliran musik yang ada. Karena itu kami ingin menjaring musisi-musisi Bali agar terus berkarya dan punya kiprah profesional,” jelasnya.

Mengusung semangat kebersamaan, tahun ini Bali Rockin Blues juga berkolaborasi dengan sejumlah kegiatan lain, termasuk Sanur Village Festival. “Kami melihat semangatnya sama—menghidupkan festival berbasis komunitas. Jadi kami bergabung agar bisa menghadirkan kekuatan yang lebih masif dan saling mendukung,” ujar Pemilik Pragina Showbiz Bali

Tahun sebelumnya, festival ini sempat berkolaborasi dengan komunitas Himpunan Motor Tua saat peringatan anniversary mereka. Pola kerja kolaboratif itu tetap dipertahankan tahun ini, dengan harapan melahirkan “cita rasa baru” dalam dunia musik festival di Bali.

Rencananya, sebanyak 8 hingga 12 band lokal akan tampil membawakan berbagai genre musik, tidak hanya rock dan blues, tetapi juga musik daerah serta alternatif lainnya. “Kami tidak men-segmentasi setiap hari untuk satu genre. Setiap hari ada warna musik berbeda, agar penonton bisa menikmati,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....