Maraknya pemalsuan kain Gringsing

  • 18 Jun 2024 05:25 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar : Pesta Kesenian Bali (PKB ) ke 46 sebagai ajang tahunan yang selalu dinantikan oleh masyarakat Bali dan juga wisatawan, memberikan ruang bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memamerkan produk-produknya.


Salah satu stand yang paling ramai dikunjungi adalah stand kain Gringsing. Kain yang diproduksi dengan teknik dobel ikat ini dikenal tidak hanya karena keindahan motifnya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang memerlukan ketelitian dan waktu yang panjang


Kain Gringsing, dengan keunikan dan nilai budayanya yang tinggi, telah menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang sangat dihargai. Namun, popularitas kain Gringsing juga membawa tantangan tersendiri, salah satunya adalah maraknya praktik pemalsuan.


Salah seorang pelaku UMKM kain Gringsing Ni Made Lastrini (59) mengatakan selain berjualan dirinya juga dapat mengedukasi masyarakat tentang kain Gringsing yang asli. " Karena saat ini sangat marak kain Gringsing palsu yang di jual dengan harga yang jauh lebih murah, menggunakan pewarna tekstil, tidak mengunakan teknik doble ikat dan tidak memiliki nilai budaya," ucapnya.


Lastrini juga menambahkan kain Gringsing sudah mempunyai Hak Paten dan hanya diproduksi di Desa Tenganan Pegringsingan Kabupaten Karangasem. Proses pembuatannya membutuhkan waktu 8 sampai 15 tahun dan menggunakan pewarna dari alam.


Selain itu Lastrini juga sangat berterimakasi kepada Pemprov Bali yang sudah memberikan ruang kepada pengerajin Kain Gringsing untuk ikut berpatisipasi di setiap PKB dan tidak di pungut biaya sepeserpun.

(Oleh : Pande gede Marhendra)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....