Prestasi yang Lahir di Bawah Mistar: Kisah Reza Arya Mengawal Gelar Persebaya

  • 08 Agt 2026 09:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Gianyar - Ketika pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti, seluruh perhatian tertuju kepada seorang penjaga gawang berbaju merah muda. Muhammad Reza Arya Pratama berdiri tenang di bawah mistar.

Dua kali ia membaca arah bola, dua kali pula penyelamatannya memastikan Persebaya Surabaya menjuarai Piala Presiden 2026 sekaligus mengakhiri penantian 22 tahun akan trofi bergengsi. Reza memulai laga dari bangku cadangan.

Bernardo Tavares baru memasukkannya pada babak kedua menggantikan Ernando Ari. Keputusan itu kemudian menjadi salah satu momen penting ketika pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti. Di awal turnamen, Ernando Ari lebih sering menjadi pilihan utama.

Namun kesempatan yang datang di partai final dijawab Reza dengan penampilan terbaiknya. Ketika laga mencapai babak adu penalti, kiper berusia 26 tahun itu tampil sebagai tokoh sentral.

Ia menggagalkan eksekusi penalti pertama Persib Bandung yang dilepaskan Uilliam Barros Pereira, kemudian kembali membaca arah tendangan Al Hamra Hehanussa sebagai penendang ketujuh. Dua penyelamatan tersebut mengantarkan Persebaya menang 6-5 melalui adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga 120 menit.

Para pemain Persebaya Surabaya merayakan keberhasilan memastikan gelar juara Piala Presiden 2026 usai menaklukkan Persib Bandung melalui adu penalti di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. (Foto: RRI/Oscar)

Performa heroik itu bukanlah keberuntungan semata. Lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 18 Mei 2000, Reza mengawali perjalanan sepak bolanya di PPLP Sulawesi Selatan sebelum bergabung dengan akademi PSM Makassar. Bersama Juku Eja, ia tumbuh menjadi salah satu penjaga gawang paling konsisten di Liga 1 Indonesia.

Puncak performanya terlihat saat mengantarkan PSM Makassar menjuarai Liga 1 musim 2022/2023. Kala itu, Reza tampil dalam 35 pertandingan, membukukan 14 clean sheet dengan tingkat penyelamatan mencapai 78,3 persen.

Catatan impresif tersebut menjadi salah satu alasan Persebaya merekrutnya secara cuma-cuma pada awal musim 2026 setelah kontraknya bersama PSM berakhir. Kepercayaan itu langsung dibalas dengan trofi. Namun, bagi Reza, penghargaan sebagai pemain terbaik final bukanlah hasil kerja seorang diri.

"Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang bekerja sangat keras. Kami tidak punya banyak waktu untuk istirahat. Sehari sebelum pertandingan hanya recovery, tetapi semua pemain berjuang lebih dari 100 menit sampai adu penalti," ujar Reza dalam konferensi pers usai pertandingan, Jumat 7 Agustus 2026 dini hari WITA di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.

Bagi Reza, gelar Piala Presiden bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang yang masih harus ditempuh bersama Persebaya. "Ini baru permulaan musim. Yang paling penting nanti kami bisa menjalani liga dengan bagus karena kompetisinya sangat panjang. Alhamdulillah bisa menjadi juara dan semoga kami bisa tampil konsisten," tegasnya.

Pesan serupa juga ia sampaikan kepada para pendukung melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @rezaaryapratama30 beberapa jam setelah laga usai. "This is just the beginning, but we have to enjoy every step of the journey. Thank you for your incredible support. Our fans truly deserve moments like this,"ujar Reza melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.

Unggahan tersebut mempertegas apa yang sebelumnya ia sampaikan dalam konferensi pers. Bagi Reza, trofi Piala Presiden bukanlah tujuan akhir, melainkan pijakan untuk menghadapi kompetisi Liga 1 yang jauh lebih panjang.

Pelatih Persebaya Bernardo Tavares mengakui keberhasilan timnya lahir dari mentalitas para pemain. Pengalaman buruk dalam adu penalti yang pernah dialaminya di masa lalu sempat membayangi. Namun, malam di Gianyar menghadirkan cerita berbeda.

"Tidak mudah memenangkan adu penalti. Saya pernah mengalami pengalaman buruk sebelumnya. Tapi hari ini saya sangat senang karena kami menang," ungkap pelatih asal Portugal tersebut.

Tavares menilai kedua tim tampil dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya ideal akibat waktu pemulihan yang singkat. Meski demikian, ia merasa anak asuhnya mampu menunjukkan karakter sebagai tim juara.

"Attitude pemain hari ini sangat bagus. Kami terus berjuang sampai akhir pertandingan. Setelah 22 tahun tanpa trofi besar, akhirnya Persebaya memiliki trofi Piala Presiden," katanya.

Sebelum meninggalkan ruang konferensi pers, Tavares juga mengajak Bonek dan Bonita memenuhi Stadion Gelora Bung Tomo pada laga perdana musim baru sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan para pemain. Trofi Piala Presiden akhirnya berada di tangan Persebaya.

Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares bersama penjaga gawang Muhammad Reza Arya Pratama berpose dengan trofi Piala Presiden 2026 usai konferensi pers setelah memastikan Persebaya keluar sebagai juara.(Foto: Oscar Robert/RRI)

Bagi Reza Arya, malam di Gianyar bukan sekadar tentang medali atau penghargaan pemain terbaik. Itu adalah pembuktian bahwa kesempatan sekecil apa pun dapat mengubah perjalanan karier seseorang. Kalimat yang ia tuliskan beberapa jam setelah pertandingan usai, "This is just the beginning," menjadi benang merah dari kisah tersebut.

Bagi Persebaya, gelar Piala Presiden 2026 bukan sekadar mengakhiri penantian selama 22 tahun, tetapi juga menjadi titik awal untuk membuktikan bahwa keberhasilan ini bukan hanya euforia sesaat, melainkan fondasi menuju prestasi yang lebih besar pada musim 2026/2027.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....