Mencari Kebenaran dalam Hidup
- 05 Agt 2024 10:45 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Kebenaran itu adalah hukum hidup kita dan tidak harus dilanggar. Dengan tidak melanggar kebenaran itu, dapat akan lebih memudahkan kita untuk dapat mencapai dan memenuhi tujuan hidup sesuai dengan ajaran Agama Hindu yang disebut dengan Moksa. Namun tidak memungkiri dalam perjalanannya untuk dapat mencapai tujuan tersebut, sudah barang tentu banyak terjadi hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan.
Kita semua meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah sifatnya maya dan tidak kekal keberadaannya. Hal ini dapat kita buktikan seperti apa yang terungkap dalam kitab Slokantara, pada sloka empat dimana disebutkan, Aikyam yowana rupa manityo drewiyasamcaya, anityah twiyasam yogastamah dharmam samascare, yang artinya dimana keremajaan dan kecantikan rupa itu tidak langeng, timbunan kekayaan pun tidak langeng. Hubungan dengan yang dicintai juga tidak langeng. Oleh karena itu kita harus selalu senantiasa mengejar Dharma atau kebenaran. Karena hanya itulah yang langeng di muka bumi ini.
Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang Penyuluh Agama Hindu, Kementrian Agama Kota Denpasar, I Wayan Winaja, S.S.Kar, M.Fil.H dalam Acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz (Minggu 4 Agustus 2024). Lebih lanjut dijelaskan, maksud dari sloka itu adalah, bahwa keremajaan dan kecantikan rupa itu adalah sesuatu yang tidak kekal, apalagi di jaman sekarang terkait dengan tata rias atau kecantikan yang dianggap merupakan sebagai suatu kebutuhan utama bagi umat manusia, khususnya bagi kaum wanita. Kalau dlihat secara realita, semua sarana yang dipakai itu kebanyakan merupakan suatu kepalsuan.
“Misalnya adanya sulam alis, itu kan tidak merupakan suatu kebutuhan. Itu hanya untuk memperjelas suatu goresan yang ada pada wajah. Tapi kalau secara keduniawian, itu dapat dikatakan suatu bentuk kepalsuan. Selain itu ada yang pakai bulu mata, padahal kita sudah dikasih bulu mata?,” kata Winaja.
Sekarang kita lihat di masyarakat, dalam kehidupan kita khususnya di Bali, terkadang di dalam satu rumah tangga yang tarap ekonominya dibilanglah menengah ke atas, bisa jadi ada bermacam-macam tipe atau merk kendaraan roda dua atau roda empat yang dimilikinya bisa sampai melebih dari kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung kehidupnya. Semua itu didasari atas keinginannya dan emosinya atau Kamanya, dimana segalanya itu didapat dengan cara, apakah mungkin itu dengan cara memaksakan diri, atau terkadang didapat dengan jalan yang tidak benar.
Mereka itu tidak sadar bahwa semua itu adalah tidak langeng, atau sefatnya sementara.
“Nah sekarang muncul pertanyaan. Apakah langkah itu salah atau benar? Kalau kita telaah secara mendalam, semua langkah itu dapat dikatakan salah jika kita lihat dari pemenuhan kebutuhan dan keinginan tersebut yang dipaksakan, tidak sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi dapat menimbulkan suatu beban hidup yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Namun jika seseorang memiliki kekemampuan yang memadai dan melebihi dari yang diperlukan, hal seperti itu dapat dikatakan benar, karena dalam prosesnya tidak terdapat kesenjangan. Kesenangan hidup sehari-hari, makan serba leasat, jalan-jalan ke mol, menikmati asmara dengan istri dan lain-lain, semua itu tidak langeng," ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.
Dengan memahami sifat keduniawan, mampu mencurahkan pikiran pada pelaksanaan kebenaran, dalam artian, kita tidak boleh melakukan kekerasan terhadap sesama manusia, didasari atas cinta kasih, kasih saying, semuanya itu dilaksanakan tanpa ada suatu unsur pemaksaan, maka itu perilaku yang sangat benar. Dan itulah yang kita cari selama mengarungi kehidupan ini. Perilaku kehidupan kita yang sudah didasari atas Dharma merupakan kewajiban kelahiran kita menjadi manusia, sesuai dengan ajaran Catur Purusa Arta atau empat tujuan hidup ke dunia, yaitu dharma, arta, kama, moksa.
“Artinya, dalam mencapai tujuan hidup tersebut, hendaknya harus selalu berlandaskan Dharma atau kebenaran,” jelas Winaja.
Dalam Niti Sastra telah ditekankan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, kecuali Dharma atau kebenaran. Sebagai penguatan untuk lebih percaya atau yakin tentang Dharma atau kebenaran itu sendiri, dalam kitab Niti Sastra bab 3, seloka 3, juga kita dapati persamaan isi dan makna tentang kebenaran tersebut. Dimana disebutkan Anitya ikanang urip, anuami wayah kasugihan, atilar nda tan stiti. Ikang surata sang damaika kadi langeng apwara wiyoga tan lama, Adharma kalawan Sudharma guna muda, wedi-wedi kasuran, Utama sa darda hananing sarira, tumuwuh tekaning pati manut nda tan hilang, Yang artinya hidup di dunia ini tidak abadi atau kekal. Ketampangan rupa, usia muda dan kekayaan pun meninggalkan kita, tidak langeng.
Demikian kasih sayang kita yang nampaknya bisa dijadikan kekal, enyataannya bercerai juga dari kita. Yang kekal hanya kesan-kesan karma yang jahat maupun baik, dan kepandian serta kebodohan, rasa takut dan berani itu berdampingan sifatnya, atau selalu berpasangan dalam tubuh kita sampai mati. Sifat-sifat itu tidak berpisah dari badan kita. Jadi keremajaan, kekayaan, dan cinta kasih itu sifatnya tidak kekal adanya.
“Malah dalam Kitab Sarasamuscaya ditekankan lagi bahwa semuanya itu bukan saja tidak kekal tetapi juga tidak ada gunanya. Karena segalanya itu tidak dapat menolong kita di dunia maya ini. Kesusilaan dan perbuatan yang baik sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari bagian pemikiran dan perkataan yang selalu mendahului segala tindakan kita mengingat apabila kita akan melakukan sesuatu yang mengarah pada kebaikan. Harus berlanaskan pemikiran yang baik dan dilanjutkan dengan perkataan yang baik juga dalam konsep ajaran kita yang dikenal dengan Trikaya Parisudha, yakni wacika, manacika dan kayika, berkata dan berpikir dan berbuat yang baik,” tegas I Wayan Winaja.
(I Putu Adi Sutirta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....