Cakra Manggilingan, Kesadaran Tentang Perputaran Kehidupan
- 02 Agt 2024 06:44 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Cakra manggilingan, suatu konsep yang menggambarkan siklus kehidupan yang terus berputar. Istilah ini berasal dari kata "cakra" yang berarti roda dan "manggilingan" yang berarti berputar. Secara filosofis, cakra manggilingan mencerminkan pandangan bahwa kehidupan manusia dan alam semesta berjalan dalam siklus yang terus berulang. Segala sesuatunya mengalami perubahan dan perputaran, baik itu nasib, keberuntungan, maupun situasi hidup.
“Masyarakat sering berkeluh kesah bahwa "hidup ini amonean dogen" artinya hidup seperti ini-ini saja. sehingga kita perlu penyadaran kembali bahwa dalam sarasamuscaya, disebutkan hukum perputaran adalah sebuah kepastian. Ini yang disebut sebagai cakra manggilingan. cakra yang berputar. gerakan yang berputar ini sebagai hukum alam. Tentu penentunya adalah diri kita sendiri. kearahmana perputarannya, ya kita sebagai penentunya.” Ujar Dr. I Nyoman Dayuh, S.Ag.,M.Si., Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementrian Agama Kota Denpasar dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 Denpasar, Rabu (31/07).
Cakra manggilingan, diibaratkan sebagai sebuah roda yang berputar. Masyarakat memahami gerakan kehidupan ini berjalan linier. Nyoman Dayuh, kehidupan berjalan justru dengan siklus yang berputar, laksana pergerakan bumi dan matahari. Ia menjelaskan, masyarakat perlu menyadari perputaran kehidupan di bumi ini dengan memperhatikan porosnya. Kehidupan manusia pun memiliki sebuah poros, yakni atma, wujud dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam diri manusia.
Nyoman Dayuh menuturkan bahwa hukum karma pun sebagai cakra manggilingan. Kehidupan yang dijalani manusia saat ini dapat digunakan untuk memperbaiki perbuatan masa lampau. Ia menggambarkan, kehidupan saat ini menjadi momentum perbaikan sebagai penyempurnaan. Kehidupan sekarang saatnya peleburan perbuatan tidak baik menjadi baik, dengan jalan melakukan perbuatan yang baik. Cakra manggilingan sebagai sebuah perjalanan yang dijalani manusia tanpa harus menentangnya. Proses perbaikan karma ini memerlukan kesadaran yang harus diputar setiap hari. Kesadaran ini dimulai dari penyadaran akan spirit kehidupan/atma hingga penyadaran kehidupan manusia secara fisik. Hal ini dapat dilakukan dengan Pranayama, berkonsentrasi pada nafas dalam menjalankan meditasi.
“kita mengibaratkan kehidupan sebagai sebuah roda atau ban, ya. Yang menyangga roda itu ada jeruji, dan velg, itulah siklus kehidupan. Ban bisa kempes, Jeruji bisa bengkok. Begitu juga dengan kehidupan kita, tidak selalu berjalan mulus. Sehingga, untuk menyadari tentang bagaimana dan apa yang kita lakukan dalam hidup ini, manusia perlu menyadari kehadiran spirit dan kehidupan. Spirit itu ada dalam nafas kita. Sehingga sebutan suka, duka, lara, pati adalah hukum alam. Pasti terjadi dalam perputaran kehidupan.” Tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....