Hari Soma Ribek,Tidak Boleh Bayar Hutang, Benarkah?

  • 16 Jul 2024 05:32 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Pada Hari Senin, 15 Juli 2024, Umat Hindu di Bali merayakan rahina Soma Ribek. Soma Ribek masih merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati yang diperingati setiap hari Senin atau soma pon wuku sinta. Soma Ribek merupakan Hari Senin yang penuh anugerah, bahkan diidentikkan denfan Hari Pangan versi Hindu Bali.

Soma Ribek berasal dari dua kata yaitu Soma yang berarti Senin dan Ribek berasal dari kata Ri yang berarti dina atau hari, dan kata Bek yang berarti penuh. Artinya, setelah umat manusia mendapatkan Ilmu Pengetahuan melalui Saraswati dan Pengetahuan itu menjadi Pangeweruh yang menyejukkan, menyehatkan, menyegarkan seperti air atau banyu. Maka tiba saatnya pada hari Soma Pon Wuku Sinta, dikenal dengan nama Soma Ribek. Yang mana merupakan hari yang penuh karunia sumber urip (Amertha).

Ada keterkaitan yang sangat erat antara Soma Ribek dan Dewi Sri. Makna hari suci Soma Ribek. Hari Soma dengan dewanya Sang Hyang Wisnu, perwujudannya sebagai Udaka (air) menjadi amertha pawitra. Hari Pon dengan dewanya Sang Hyang Mahadewa, sebagai perwujudan apah (marutha) menjadi amertha kundalini. Sementara wuku Sinta dengan dewanya Sang Hyang Yama sebagai perwujudan dari agni (api) menjadi amertha kundalini. Ketiga amertha inilah yang dibutuhkan oleh kehidupan semua makhluk di dunia, khususnya manusia. Disebutnya hari Soma Ribek sebagai hari penegdegan Batara Sri atau piodalan beras dan Padi karena pelaksanaan upacaranya menggunakan beras. Beras merupakan simbol amertha.

Sedangkan Menurut Lontar Pawukon, dijelaskan bahwa pada hari Soma Ribek, umat Hindu akan melaksanakan upacara di lumbung (tempat penyimpanan padi) serta pulu (tempat penyimpanan beras). Sarana upakara-nya, nyanyah geti-geti, gringsing, raka-raka, pisang emas dan bunga-bunga yang harum. Yang menarik, pada hari suci Soma Ribek ada tradisi berpantang untuk menumbuk padi dan menjual beras. Bahkan, di beberapa tempat, selain menumbuk padi dan menjual beras, juga dipantangkan mengetam padi, menyosoh (nyelip) gabah, memetik buah-buahan atau sayuran, menjual hasil pertanian utamanya bahan pangan. Malah, ada juga yang berpantang memberi atau meminta bahan pangan kepada orang lain.

Dalam sebuah Podcas yang bertema “Makna Hari Soma Ribek” di Kanal Youtube Kemenag Gianyar, Jro Mangku Ngakan Ketut Kembar, seorang Tokoh Agama Hindu kabupaten Gianyar sekaligus sebagai Anggota PSN (Pinandita Sanggraha Nusantara) di Gianyar mengatakan, ada beberapa pantangan bagi Umat Hindu pada hari Soma Ribek adalah tidak boleh menumbuk padi dan menjual beras, bahkan memotongvpadipun diharapkan jangan. Hal ini tersurat dalam lontar Sundarigama:

"ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening Bhatara Sri. Pakenania wenang ngastuti Sang Hyang Tri Pramana. Angisep sari tatwa adnyana, aje aturu ring rahinane."

Yang artinya: Umat manusia tidak dibenarkan menumbuk padi, menjual beras, yang melanggar pantangan itu dinyatakan akan tiada mendapat anugerah Ida Batara Sri. Sepatutnya memuja Sang Hyang Tripramana, menyerap sari tattwa jnana, dan jangan tidur di siang hari.

Sementara ada beberapa tradisi di Bali, kalau Soma Robek tidak boleh bayar hutang, Mangku Ngakan menjelaskan, sebenarnya masalah bayar hutang itu, adalah pantangan saat Hari Buda Wage Wuku Kelawu, yaitu Odalan Rambut Sedana. Ini maksudnya menghormati Sang Hyang Rambut Sedana, sebagai dewanya uang. Bukan tidak mau membayar, tapi menunda saat Odalan Rambut Sedana, sebagai bentuk penghormatan. Kalau Hari soma Ribek, sudah jelas pantangannya tidak menumbuk padi dan memberi atau menjual beras yang kita miliki, serta tidak tidur di siang hari.

Sebaliknya, yang mesti dilakukan oleh umat manusia saat hari suci Soma Ribek adalah memuja Sang Hyang Tripramana (Dewa penguasa tiga situasi dunia) yakni kenyataan, tanda-tanda dan falsafah agama (tatwa). Dan tidak tidur di siang hari, dimaksudkan agar manusia bekerja dengan penuh semangat dan tidak malas.

Menurut tradisi Bali, mensyukuri karunia Ibu Perthiwi tiada lain dengan menjaga dan merawatnya melalui menanam segala jenis tanaman sumber kehidupan. Dengan menanam, tidak saja memberi sumber kehidupan pada manusia, tetapi juga menyegarkan tanah dan sebagai paru-paru lingkungan, sehingga kelestarian kehidupan makhluk bumi terus terpelihara.

(I Putu Adi Sutirta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....